Tourism Malaysia focuses Picture.pngKuala Lumpur, LiputanIslam.com — Malaysia terancam rugi besar setelah pesawat maskapai penerbangan Malaysian Airlines dengan nomor penerbangan MH370 dinyatakan hilang. Analis dari riset pasar Forward Company, Luo Juan, mengatakan pada surat kabar South China Morning Post (SCMP), negara tersebut diperkirakan akan menderita kerugian hingga RM 4,2 miliar atau hampir Rp 14,6 triliun di bidang pariwisata.

“Angka tersebut mewakili 400 ribu hingga 800 ribu wisatawan Cina yang tidak ingin datang lagi ke Malaysia. Setiap turis menghabiskan rata-rata 10.000 yuan selama mereka tinggal di sana. Jika di total, kerugiannya akan mencapai 4 miliar hingga 8 miliar yuan,” kata Juan, seperti dilansir situs Malaysia Insider, Kamis (27/3).

Juan memprediksi hal ini setelah melihat kontroversi hilangnya MH370. Kejadian tragis itu mendorong banyak wisatwan Cina tidak mau ke Malaysia. Padahal, sebelumnya bagi masyarakat Cina, Malaysia merupakan tujuan wisata yang menarik. Namun, semenjak pemberitahuan bahwa MH370 dinyatakan hilang di Samudra Hindia, sejumlah warga Cina marah karena pihak Malaysia dinilai kurang memberikan informasi.

SCMP juga melaporkan bahwa permintaan perjalanan ke Malaysia di sejumlah agen perjalanan di Cina turun tajam. “Dalam dua minggu terakhir, jumlah klien dari Cina ke Malaysia turun 50 persen,” kata Dun Jidong, Manajer Ctrip.com, situs pemasaran travel terbesar di Cina.

Tak hanya itu, Lei Gei, seorang direktur pemasaran, juga mengaku layanan perjalanan ke Malaysia juga dibekukan sementara mulai 2 Mei nanti. “Sebab, setelah MH30, jumlah permintaan perjalanan ke Malaysia turun menjadi hampir ke angka nol,” kata Lei.

Di sisi lain, Menteri Pariwisata Malaysia Datuk Seri Mohammed Nazri Aziz mengatakan Malaysia juga menangguhkan kampanye Visit Malaysia 2014. “Kementerian telah menghentikan tur promosi, terutama di Cina, sampai MH370 ditemukan sebagai tanda penghormatan kepada keluarga dan para penumpang,” kata Aziz.

Adapun Juan memperkirakan pemulihan keadaan mungkin bisa diatasi dalam waktu paling cepat setahun. Namun, kata dia, ini tergantung seberapa besar efek boikot pada industri pariwisata di Malaysia.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL