kapten sewolSeoul, LiputanIslam.com — Kaptel kapal feri “Sewol” yang tenggelam bersama sekitar ratusan penumpangnya di Korsel bulan April lalu, mengakui kebingungan saat menghadapi bencana tersebut. Hal itu disampaikannya dalam persidangan atas dirinya yang digelar hari Selasa (7/10).

Lebih dari 300 orang meninggal dalam musibah itu, sebagian besar adalah pelajar sekolah menengah yang hendak berlibur di Pulau Jeju.

Lee Joon-seok (69 tahun), diadili atas dakwaan pembunuhan karena kelalaian yang diancam dengan hukuman mati. Pengadilan digelar di kota Gwangju, sejak bulan Juni lalu.

Sebagaimana dilaporkan oleh BBC News dari ruang sidang, Kapten Lee berulangkali mengatakan kepada hakim bahwa dirinya mengalami kebingungan menghadapi situasi saat kapal yang dipimpinnya mulai tenggelam.

Lee juga mengklaim dirinya telah memerintahkan agar kapal ditinggalkan, namun perintahnya tidak diikuti oleh awak kapal dan penumpang. Jaksa menyebut pernyataan itu bertentangan dengan kesaksiannya sebelumnya di hadapan polisi.

Para penyidik mengungkapkan bahwa kombinasi dari muatan yang terlalu banyak, modifikasi ilegal di badan kapal serta awak kapal yang tidak berpengalaman menjadi penyebab bencana tersebut terjadi.

Seorang jurumudi yang tidak berpengalaman menyebabkan kapal berbelok tajam sehingga membuat muatan-muatan  yang tidak terikat baik, berpindah ke satu sisi sehingga membuat kapal miring sebelum akhirnya tenggelam.

Seperti sidang-sidang sebelumnya, keluarga korban yang marah memadati ruang sidang. Sesekali mereka melakukan interupsi atas persidangan.

Sebelas awak kapal lain menghadapi dakwaan yang sama dengan ancaman yang lebih ringan dari sang kapten.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL