pengadilan sewolSeoul, LiputanIslam.com — Kapten feri “Sewol” yang tenggelam di perairan Korea Selatan bersama 300 penumpangnya bulan April lalu akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 36 tahun.

Lee Joon-seok, sang kapten, dituntut hukuman mati atas dakwaan pembunuhan oleh para jaksa. Namun hakim yang mengadili perkaranya di pengadilan Gwangju menjatuhkan vonis lebih ringan. Ia diadili bersama 14 awak kapal lainnya yang dianggap bertanggungjawab atas musibah maritim terbesar Korea Selatan itu.

Pengadilan terpisah terhadap anggota keluarga pemilik kapal sebelumnya telah menjatuhkan vonis penjara terhadap 3 anak pemilik kapal “Sewol” Yoo Byung-eun. Adapun Yoo, ditemukan tewas bulan Juni lalu tidak jauh dari rumah peristirahatannya setelah buron beberapa bulan.

Lee yang kini berumur 60 tahunan menyatakan menerima hukuman tersebut. Demikian BBC News melaporkan.

Hakim berpendapat bahwa Lee bukan satu-satunya orang yang bersalah dalam insiden itu. Ia juga dianggap tidak melakukan pembunuhan secara sengaja.

Keterangan para saksi dan bukti-bukti dokumentasi menunjukkan bahwa Lee meninggalkan kapal pada saat kapal mulai hendak tenggelam, sementara ratusan penumpang lainnya masih berada di dalam kapal.

Dalam persidangan, Lee juga menyatakan permintaan ma’af kepada keluarga korban.

Sementara itu kepala mesin bernama Park, dijatuhi hukuman 30 tahun penjara atas dakwaan pembunuhan. Awak kapal lainnya dijatuhi hukuman beragam hingga yang terberat selama 20 tahun penjara.

Sebagian besar keluarga korban yang hadir dalama persidangan tampak emosi dan kecewa dengan keputusan hakim.

“Ini tidak adil. Bagaimana dengan nyawa anak-anak kami? Ia (Lee) berhak mendapatkan hukuman lebih buruk dari hukuman mati!” teriak seorang wanita di ruang sidang.

BBC melaporkan, beberapa jam sebelum pembacaan vonis, pemerintah Korsel mengumumkan penghentian pencarian korban yang masih terperangkap di dasar samudra. Sebanyak 9 orang korban dinyatakan hilang, sementara 295 korban lainnya berhasil diangkat jenasahnya.

Kasus ini membongkar praktik-praktik kotor dan ketidak profesionalan dunia kemaritiman Korsel. Selain itu, menejemen penanganan bencana juga dianggap tidak efektif sehingga Presiden Korsel melakukan perombakan besar-besaran terhadap Satuan Pengawal Pantai.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL