costa concordiaRoma, LiputanIslam.com — Kapal pesiar mewah yang kandas di pulau Giglio Island sejak Januari 2012, Costa Concordia tengah dalam proses pengangkatan kembali. Ini adalah proses “penyelamatan” kelautan terbesar sepanjang sejarah.

Sebagaimana laporan BBC, Senin (14/7), ratusan penyelam dan insinyur terlibat dalam proses ini. Para pekerja akan mengangkat kembali kapal tersebut dengan memompakan udara bertekanan tinggi ke beberapa tanki yang terkait dengan badan kapal. Prosesnya sendiri diperkirakan memakan waktu 6 hingga 7 hari.

Setelah mengapung, kapal akan ditarik ke pelabuhan asalnya di Genoa Italia, untuk selanjutnya dihancurkan sebagai besi tua.

Concordia menabrak karang dan kandas di dekat Pulau Giglio pada Januari 2012. Sebanyak 32 penumpang tewas dalam peristiwa itu.

Bangkai kapal telah ditarik dan ditegakkan posisinya pada bulan September lalu, namun sebagian badannya masih tenggelam di dalam air dan ditahan oleh penyangga beton.

“Ini adalah operasi yang sangat kompleks,” kata Franco Gabrielli, pejabat keamanan Italia yang mengawasi jalannya operasi.

“Tahap pertama dari operasi merupakan tahap yang paling berbahaya karena kapal akan dilepaskan dari penyangganya,” tambahya.

Selain itu sebuah operasi pencarian juga dilakukan terhadap jenazah Russel Rebello, warga India yang menjadi waiter yang belum ditemukan.

Franco Porcellacchia, seorang insinyur yang terlibat dalam operasi penyelamatan menyebutkan bahwa operasi dengan skala seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

“Sebagaimana sesuatu yang dilakukan pertama kali, selalu ada resiko, namun kami yakin,” tambahnya.

Kapal Concordia sendiri memiliki ukuran 2 kali lebih besar dari kapal Titanic yang legendaris itu. Sampai saat ini seluruh operasi penyelamatan telah memakan dana hingga $800 juta, belum termasuk operasi pengangkatan terakhir.

Penduduk sekitar menyatakan kegembiraannya bahwa bangka kapal itu akan diangkat.

“Saya gembira, karena melihat kapal seperti itu selalu berada di sana dengan kematian-kematian yang terjadi, selalu membuat kami sedih,” kata Italo Arienti, seorang penduduk setempat kepada Reuters.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL