uss cookvKiev, LiputanIslam.com — Satu kapal perusak AS yang dilengkapi sistem pertahanan udara canggih Aegis, memasuki Laut Hitam, di tengah ketegangan yang meningkat di Ukraina timur.  Kapal USS Donald Cook, hari Kamis (10/4) melintasi Selat Bosporus dan memasuki Laut Hitam, memicu kecaman Rusia yang menyebut NATO tengah menggalang kekuatan tempur di Laut Hitam.

Dephan Amerika, hari Kamis, menyatakan bahwa kedatangan kapal perang tersebut di Laut Hitam adalah untuk “meyakinkan sekutu-sekutu NATO dan mitra-mitra di kawasan Laut Hitam terkait ketegangan di Ukraine”.

“Ini menunjukkan komitmen kami terhadap sekutu-sekutu kami tentang peningkatan keamanan, kesiapsiagaan dan kemampuan,” kata jubir Dephan AS Kolonel Steven Warren dalam pernyataannya hari Kamis.

Namun para pejabat Rusia menuduh AS tengah meningkatkan kekuatan militer di kawasan tersebut.

“Apa yang kami lihat adalah bahwa untuk pertama kali sejaka tahun 2008, NATO tengah membentuk satuan tempur di dekat perbatasan-perbatasan Rusia,” kata seorang pejabat militer Rusia kepada kantor berita Interfax. Sumber tersebut menambahkan, selain kapal perang AS tersebut, kapal perang Pernacis “Dupuy de Lome” dan “Dupleix” juga akan tiba di kawasan tersebut minggu depan. Selain itu kapal penolong Perancis “Alize”, telah berada di Laut Hitam sejak bulan lalu.

“Tujuan dari langkah itu (pengiriman kapal perang) adalah untuk memberikan dukungan moral kepada rezim Kiev, namun juga untuk memamerkan kekuatan kepada Rusia agar Rusia mundur. Selain itu kapal-kapal itu juga bisa menjadi pengumpul informasi tentang aktifitas militer Rusia di Krimea dan perbatasan Ukraina,” tambah sumber itu lagi.

Rusia memiliki Armada Laut Hitam di Krimea, yang kini telah menjadi wilayah Rusia paska referendum bulan lalu.

Kapal USS Donald Cook telah memicu kemarahan Rusia ketika bergabung dengan armada NATO di Eropa tahun ini, karena dengan sistem pertahanan udara Aegis yang dimilikinya, akan memperkuat sistem pertahanan rudal NATO. Rusia menyebut hal itu sebagai ancaman terhadap keseimbangan keamanan dan mengubah keseimbangan nuklir di kawasan.

Rusia pergerakan kapal-kapal perang Amerika dan NATO telah melanggar Konvensi Montreux yang mengatur pergerakan kapal-kapal perang di Laut Hitam.

Menurut perjanjian tersebut kapal-kapal perang negara-negara di luar kawasan Laut Hitam hanya diijinkan berada di kawasan selama 21 hari. Kapal perang AS USS Taylor berada di kawasan tersebut lebih dari sebulan antara Februari sampai Maret lalu.

 

NATO: Rusia Perkuat Pasukan di Perbatasan Ukraina
Di sisi lain Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) merilis gambar satelit yang menunjukkan membesarnya militer Rusia di perbatasan timur Ukraina. Ada konsentrasi kuat dari pesawat tempur, helikopter, artileri, infanteri, dan pasukan khusus, yang menurut para pejabat NATO siap bergerak dengan hanya pemberitahuan dalam 12 jam.

Gambar ini muncul untuk melemahkan pernyataan resmi dari Moskow yang mengatakan tidak ada yang tak biasa dari pergerakan pasukan di sana, sehingga negara Barat tak punya alasan untuk khawatir Rusia akan menginvasi Ukraina.

Gambar-gambar itu menunjukkan deretan ratusan tank dan kendaraan lapis baja tampaknya menunggu perintah di lapangan dan lokasi lainnya sekitar 50 km dari perbatasan. Gambar-gambar, yang diambil dalam dua minggu terakhir, menunjukkan sebagian dari apa yang NATO katakan sekitar 100 daerah pertunjukan yang hampir seluruhnya kosong pada Februari lalu.

Salah satu gambar menunjukkan bahwa sebelumnya daerah kosong di pangkalan udara Buturlinovka, yang 90 mil dari perbatasan, yang sekarang menjadi tuan rumah puluhan jet cepat, meskipun tidak ada hangar atau infrastruktur lainnya terkait dengan aktivitas tersebut. Di Belgorod, 25 mil dari perbatasan, menunjukkan sekitar 21 helikopter di lapangan hijau, yang kata para pejabat NATO bisa menjadi bagian dari pangkalan operasi terdepan.

“Ini adalah kekuatan yang mampu, siap untuk bergerak,” kata Brigadir Gary Deakin, yang menjalankan operasi dan pusat manajemen NATO di markas militer aliansi dekat Mons, Belgia. “Ini adalah sumber daya yang dapat bergerak cepat ke Ukraina jika diperintahkan untuk melakukannya. Ini dalam kondisi siap saat ini, dan bisa bergerak sangat cepat.”

Deakin mengatakan, antara 35.000 hingga 40.000 tentara Rusia “dalam keadaan siap maju” dan bisa dikerahkan “dalam waktu 12 jam dari keputusan yang diambil pada pejabat tingkat tertinggi”. Dengan banyak pasukan dan tank saat ini yang berpangkalan dalam jarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan, yang berarti bisa menyeberang ke wilayah Ukraina dalam perjalanan satu jam.

Gambar NATO mengungkapkan bahwa itu tanda-tanda pasukan siap menginvasi, bukan pasukan yang sedang latihan seperti klaim Moskow. Gambar tampaknya menunjukkan bahwa di Kuzminka, di mana tank dan kendaraan tempur infanteri berkumpul, meski tidak ada barak yang memadai, bangunan yang signifikan atau bahkan tempat parkir. .

Deakin memperingatkan bahwa kekuatan itu bisa pergi lebih jauh ke wilayah timur Ukraina di mana unsur-unsur pro-Rusia saat ini menuntut pemisahan diri. “Tidak diragukan lagi itu bisa menyerang ke timur Ukraina, tetapi juga bisa menjadi jembatan darat ke Crimea, dan bahkan berpotensi ke pantai Laut Hitam ke Odessa. Kekuatannya ada di sana, tapi kita tidak tahu maksudnya,” kata Deakin. “Itulah alasan (kita) untuk khawatir.” Dengan jumlah personil bersenjata hanya 130.000, Ukraina tidak mungkin memberikan banyak perlawanan atas invasi Rusia, kata pejabat lainnya, menambahkan.

Gambar-gambar ini dirilis di tengah protes separatis terutama di daerah berbahasa Rusia, di timur Ukraina, memasuki hari kelima. Pemerintah di Kiev mengatakan, pengunjuk rasa yang merebut gedung-gedung publik di Donetsk, Luhansk, dan Kharkiv mencontoh peristiwa di Crimea, yang dianeksasi oleh Rusia bulan lalu.

Moskow membantah sedang pasukannya akan melakukan pencaplokan. Kementerian Luar Negeri Rusia bersikeras, gambar tersebut diambil saat Rusia tengah melakukan latihan militer bulan beberapa bulan lalu.

Para pejabat Rusia justru menuduh Washington dan NATO memicu ketegangan di kawasan itu. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan dalam sebuah artikel di Guardian bahwa AS dan Uni Eropa yang mendestabilisasi Ukraina .

Para pejabat senior NATO telah memperingatkan bahwa penumpukan pasukan memiliki efek psikologis dan destabilisasi, serta membantu peningkatan gejolak di Ukraina timur. “Orang-orang bertopeng ini tidak akan mengambil alih gedung-gedung pemerintah jika tidak ada 40.000 tentara di seberang perbatasan,” kata seorang pejabat NATO.(ca/tempo.co/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL