afghan miningKabul, LiputanIslam.com — Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa AS ngotot mempertahankan pasukannya di Afghanistan setelah habis masa baktinya tahun 2014 ini. Afghanistan ternyata memiliki kandungan mineral yang luar biasa besar hingga senilai triliunan dollar. Nilai kandungan tersebut, menurut ahli setara dengan kandungan minyak Arab Saudi saat pertama ditemukan seabad lalu, dan cukup untuk membuat Afghanistan berubah menjadi negara kaya raya.

Menurut laporan Lorimer Wilson dari situs khusus pertambangan mining.com dan dikutip oleh thetruthseeker.co.uk hari Minggu (1/6), pada tahun 2007 United States Geological Service telah menemukan kandungan mineral di Afghanistan yang nilainya diperkirakan mencapai $ 1 triliun. Kandungan tersebut berisi beberapa jenis bahan mineral berharga seperti biji besi, tembaga, cobalt, dan emas. Namun yang paling dominan adalah lithium, bahan mineral yang penting bagi industri batere yang banyak digunakan dalam berbagai jenis peralatan elektronik seperti ponsel dan laptop.

Menurut laporan berjudul “$1 Trillion Motherlode of Lithium and Gold Discovered in Afghanistan” itu penemuan tersebut diawali tahun 2004 ketika AS mengirim tim geologis sebagai bagian dari program rekonstruksi Afghanistan setelah pendudukan AS tahun 2001. Mereka menemukan data kandungan mineral wilayah Afghanistan yang dibuat ahli-ahli Uni Sovyet tahun 1980-an. Data tersebut masih belum selesai karena Uni Sovyet menarik dari dari Afghanistan tahun 1989.

Ketika terjadi perang sipil antar faksi tahun 1990-an yang mengantarkan Taliban menjadi penguasa, sekelompok geologis lokal menyelamatkan data tersebut dan mengembalikannya kepada pemerintah setelah kedatangan AS dan tersingkirnya Taliban.

Berdasar data Uni Sovyet tersebut pada tahun 2006 tim geologis AS melakukan pengamatan udara atas peta kandungan mineral Afghanistan dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih yang ditempatkan pada pesawat Orion P-3.

Karena data yang ditemukan sangat menjanjikan, tim geologis AS kembali melakukan pengamatan udara dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih lagi yang bisa menggambarkan secara 3 dimensi kandungan-kandungan mineral di bawah permukaan bumi.

Data yang diperoleh pun mencengangkan para geologis AS. Namun ketidak pedulian pemerintah AS dan Afghanistan membuat data mentah itu terbengkalai selama 2 tahun lebih. Baru kemudian pada tahun 2009, sebuah tim pengembangan bisnis dan ekonomi AS yang bertugas di Irak dipindahkan ke Afghanistan. Tim inilah yang kemudian berhasil mengolah data geologis tersebut menjadi data ekonomi yang menggiurkan. Data kandungan mineral yang menggiurkan itu telah dipresentasikan kepada pemerintah AS dan Afghanistan.

Sejauh ini, menurut Lorimer Wilson yang mengutip keterangan pejabat-pejabat geologi AS, deposit terbesar yang ditemukan adalah bijih besi dan tembaga yang jumlahnya cukup untuk membuat Afghanistan menjadi eksportir utama kedua jenis mineral ini. Selain itu bahan mineral lainnya adalah niobium, metal lunak yang digunakan untuk memproduksi baja super-kondukting (penghantar panas), serta cadangan besar emas di area yang dihuni warga etnis Pashtun di selatan Afghanistan.

Bulan ini saja, para ahli geologi Amerika telah melakukan survei di wilayah-wilayah danau garam kering di barat Afghanistan yang diyakini memiliki kandungan besar lithium. Para analis Pentagon menyebutkan bahwa analisis awal mereka menunjukkan bahwa deposit lithium di wilayah itu sebesar kandungan deposit yang dimiliki Bolivia, yang saat ini diketahui memiliki kandungan lithium terbesar di dunia.

Lithium yang menjadi bahan dasar baterai tahan lama merupakan bahan mineral masa depan yang permintaanya semakin besar seiring perkembangan teknologi informasi dan otomotif.

Para ahli geologi itu percaya bahwa kini mereka hampir menemukan sumber daya alam terbesar sepanjang karier mereka.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL