kampung tendaKathmandu, LiputanIslam.com — Kampung-kampung  tenda telah didirikan di berbagai tempat di Nepal untuk menampung korban gempa, baik yang terluka maupun yang selamat. Sejauh ini korban tewas telah mencapai 2.500 orang dan diperkirakan angkanya akan terus bertambah.

Seperti dilaporkan BBC News, Senin (27/4), banyak warga ibukota Kathmandu,  yang selamat dari gempa menghabiskan malam keduanya di bawah tenda, Minggu malam. Mereka takut untuk kembali ke rumahnya, terutama setelah terjadinya gempa susulan cukup hebat pada hari Minggu.

Upacara kremasi atau pembakaran mayat mulai dilakukan di berbagai tempat pada hari Minggu, atau sehari setelah gempa hebat berkekuatan 7,8 skala Ritcher mengguncang negeri di kaki Pegunungan Himalaya ini.

Setidaknya 17 orang pendaki Gunung Mount Everest tewas akibat tertimpa longsoran salju yang terpicu oleh gempa. Tim pencari masih berusaha mengevakuasi puluhan pendaki lainnya yang masih terjebak salju. Begitupun juga tim pencari terus berusaha mengeluarkan korban gempa di balik reruntuhan di Kathmandu, mingga Minggu malam.

Sementara itu korban dikhawatirkan akan terus bertambah mengingat banyak wilayah terpencil yang belum diketahui nasibnya akibat terputusnya jalur transportasi dan komunikasi.

Para ahli menilai gempa kali ini adalah yang terhebat di Nepal selama 80 tahun terakhir.

“Desa-desa yang terpencil itu secara rutin terkena dampak tanah longsor dan tidak aneh jika seluruh desa dengan 200, 300 atau bahkan 1.000 penduduk seluruhnya terkubur di dalam tanah,” kata jubir kelompok World Vision, Matt Darvas kepada BBC.

Setelah gempa utama yang terjadi di Nepal tengah antara kota Kathmandu dan Pokhara, hari Sabtu, pada hari Minggu sebuah gempa susulan berkekuatan 6,7 skala Ricther muncul kembali dengan titik pusatnya 60 km di sebelah timur Kathmandu. Gempa susulan ini semakin menambah kerusakan dan kemungkinan besar juga korban jiwa yang belum terselamatkan pada gempa pertama.

Orang-orang menggunakan berbagai tempat terbuka untuk menghabiskan malamnya, termasuk halaman sekolah dan jalanan. Sementara klinik dan rumah sakit kehabisan ruangan untuk menampung korban dan terpaksa mereka dirawat di luar.

Para pengamat menyebut bahwa masalah utama yang dihadapi Nepal adalah operasi pemberian bantuan, daripada operasi penyelamatan, meski yang terakhir ini masih tetap dilakukan dengan intensif.

Sementara itu bantuan dari berbagai negara terus berdatangan baik dalam bentuk tim tim pencari, tim penolong maupun bantuan logistik.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL