kebakaran hutan riau (foto: goriau.com)

kebakaran hutan riau (foto: goriau.com)

Pekanbaru, LiputanIslam.com–Kebakaran hutan seolah tak henti melanda Sumatera sehingga menimbulkan bencana kabut asap. Kemarin Ahada (12/10) penerbangan dari Pekanbaru terpaksa dihentikan karena jarak pandang yang hanya 500m. Sementara pemerintah kota Jambi, Provinsi Jambi, sejak Sabtu (11/10) mengeluarkan surat meliburkan aktivitas sekolah. Warga kota Medan pun sejak hari Sabtu telah menderita akibat kabut asap. Selain Medan, ada sejumlah daerah lain di Provinsi Sumatera Utara yang dilanda kabut asap, antara lain Deli Serdang, Serdang Bedagai, Simalungun, Tapanuli Selatan, serta Kota Padangsidimpuan dan Siantar.

Pada bulan Maret 2014 lalu pulau Sumatera, terutama Riau, juga mengalami bencana kabut asap yang parah. Saat itu Presiden SBY datang langsung ke Riau untuk mengawasi upaya penanggulangan. SBY kemudian menulis di akun facebook-nya pada 18/3/2014, bahwa ada 7 penyebab mengapa kebakaran terus terjadi di Riau.

Tujuh  penyebab yang disebut SBY adalah sebagai berikut:
(1) Cuaca yang ekstrim.
(2) Lahan gambut yang mudah terbakar.
(3) Cara bercocok tanam penduduk dengan cara membakar.
(4) Tindakan membakar secara meluas bermotifkan finansial.
(5) Tidak optimalnya pencegahan oleh aparat di tingkat bawah.
(6) Kurang cepat & efektifnya pamadaman api.
(7) Penegakan hukum yang tidak bisa menyentuh master-mind pembakaran

SBY tidak terang-terangan menyebut perusahaan-perusahaan yang melakukan pembakaran hutan, hanya menyebut “Tindakan membakar secara meluas bermotifkan finansial”.

Nama-nama perusahaan itu terungkap di Situs World Resources Institute (WRI). Lewat proyek Global Forest Map, WRI memetakan lokasi titik api Riau selama 20 Februari – 12 Maret 2014 dengan bantuan Active Fire Data milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Menurut data WRI, pada periode 4 – 11 Maret 2014, 87 % titik api di Sumatera ditemukan di Riau. Titik api terdapat di wilayah konsesi hutan tanaman industri seperti pulp dan kertas, kelapa sawit, HPH, dan di luar konsesi.

Global Forest Watch memetakan wilayah-wilayah konsesi yang memiliki konsentrasi “peringatan titik api” paling besar. Tabel berikut memuat datanya.

Konsesi HTI dengan Jumlah Titik Api Terbanyak (sumber tabel: Global Forest Watch)

Konsesi HTI dengan Jumlah Titik Api Terbanyak (sumber tabel: Global Forest Watch)

 

Konsesi kelapa sawit dengan Jumlah Titik Api Terbanyak (sumber tabel: Global Forest Watch)

Konsesi kelapa sawit dengan Jumlah Titik Api Terbanyak (sumber tabel: Global Forest Watch)

Dari data yang dikutip Kompas (14/3/2014) ini, terlihat pada wilayah konsesi HTI (Hutana Tanaman Industri), titik api paling banyak ditemukan di wilayah milik perusahaan Sinar Mas dan APRIL. Untuk kelapa sawit, titik api terkonsentrasi di 8 perusahaan seperti grup Panca Eka dan Sambu. WRI merekomendasikan perlunya investigasi lapangan untuk mengungkap sebab kebakaran di lokasi konsesi itu sekaligus kemungkinan pelanggaran hukumnya. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL