foto: facebook

foto: facebook

Denpasar, LiputanIslam.com — Jrx, personel Superman Is Dead, mengajak masyarakat Bali untuk lebih peduli dengan masalah besar di depan mata, dengan ikut menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa. Ia mengungkapkan keprihatinan atas minimnya minat anak muda Bali untuk bergerak menyelamatkan lingkungan.

“Kedua foto ini menunjukkan ada yang harus diperbaiki dari mindset anak muda di Bali. Sebuah acara lari pagi (foto atas) yang diadakan di lapangan Renon, dihadiri 5000 lebih anak muda, meski mereka harus membayar biaya pendaftaran,” terangnya.

Sedangkan acara yang sering digelar para aktivis untuk menuntut reklamasi Teluk Benoa dibatalkan, pesertnya tidak pernah mencapai 5.000 orang.

“Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa untuk hal yang tidak begitu urgent, anak-anak muda di Bali sangat antusias, bahkan rela membayar untuk ikut serta. Sedangkan untuk hal yang urgent (mempertahankan alam/budaya Bali dari kehancuran) antusiasme anak-anak muda di Bali masih kurang?”

Menurut Jrx, Bali bukan sekedar tempat untuk kerja, makan, tidur dan hura-hura saja. Bali adalah sebuah ‘rumah’ yang akan diwariskan kepada anak cucu kita kelak.

“Bali hanya ada satu, dan jika Bali hancur, kamu tidak akan menemukan Bali lain di manapun juga di bumi ini. Seimbangkan hidupmu. Sisihkan waktu untuk menikmati hidup di Bali, sisihkan juga waktu untuk ikut mempertahankan Bali agar kelak ia tetap cantik seperti sekarang. Cheers!” tutupnya.

Seperti diketahui, reklamasi Teluk Benoa adalah rencana investasi PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI). Perusahaan milik Tomy Winata ini akan membangun pulau-pulau baru di Teluk Benoa. Kawasan ini di antara segi tiga emas sekaligus jantung pariwisata Bali yaitu Sanur, Kuta, dan Nusa Dua.

Dari laporan mongabay.co.id, TWBI akan membangun fasilitas pariwisata serupa Disneyland (Amerika Serikat) atau Pulau Sentosa di Singapura. Di sana akan dibangun lapangan golf, gedung konvensi, perumahan, perkantoran dan lain-lain. Kawasan teluk seluas 1.400 hektar akan direklamasi sekitar 810 hektar.

Rencana inilah ditentang warga Bali, termasuk TBTR, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali), dan lain-lain. Alasannya, jika teluk di sisi barat direklamasi terumbu karang di sisi timur akan rusak. Selama ini, terumbu karang tersebut adalah salah satu tujuan wisata.

Teluk ini berada di sisi barat Tanjung Benoa. Di sana terdapat pulau kecil yang jadi tujuan turis. Sisi timur, warga lokal mengelola wisata laut seperti diving, snorkling, dan banan boat yang menjual pesona bawah laut termasuk terumbu karang dan ikan.

“Usaha wisata kami pasti mati jika nanti ada wisata terpadu yang dibangun investor. Apalagi mereka punya modal lebih besar,” jelas salah seorang pendemo yang turun ke jalan pada 16 Agustus 2014.

Bencana Lingkungan

Dari sekian banyak dampak negatif, persoalan lingkungan paling mudah terlihat. Lembaga lingkungan Conservation International (CI) Bali pernah membuat riset terkait dampak buruk reklamasi Teluk Benoa terhadap lingkungan.

“Teluk Benoa merupakan kawasan reservoir bagi lima sungai besar di Bali selatan. Jika direklamasi, air pasti melimpah ke luar kawasan jika hujan besar,” kata Iwan Dewantama, manajer Jaringan Pengelolaan Pesisir CI Bali.

Menurut Iwan, dampak ekologis lain adalah perubahan struktur tanah. Secara geogenesis atau sejarah terbentuknya, Teluk Benoa merupakan daerah mudah berubah.

“Jika direklamasi, makin labil hingga meningkatkan  risiko bencana seperti gempa dan tsunami.”

Reklamasi, katanya,  sebagai intervensi terhadap alam justru memperburuk labilitas kawasan Teluk Benoa.  Iwan mengingatkan, dampak lingkungan terhadap lokasi-lokasi yang akan dikeruk pasirnya untuk reklamasi Teluk Benoa. Menurut proposal TWBI, mereka memerlukan 33 juta kubik pasir untuk membangun pulau-pulau baru di Teluk Benoa.

Jutaan kubik pasir untuk reklamasi ini akan diambil dari beberapa lokasi seperti Pantai Sawangan, Bali bagian selatan; Karangasem, Bali bagian timur; Sekotong, Nusa Tenggara Barat; serta bekas material pengerukan pendalaman alur di lokasi reklamasi.

“Logikanya, jika ada bagian dikeruk untuk reklamasi, akan ada bagian lain dari kawasan perairan laut akan rusak. Itu sudah pasti.”

Dia menambahkan, kawasan pesisir merupakan satu kesatuan. Intervensi di satu titik akan berdampak terhadap kawasan di tempat lain. Reklamasi Pulau Serangan di Denpasar selatan pada 1994, bisa jadi contoh. Dampak reklamasi pulau hingga empat kali lipat dibanding luas awal, abrasipun terjadi lebih keras di daerah lain seperti Mertasari, Padanggalak, dan Lebih.

Karena itulah, bagi sebagian besar warga Bali seperti Priatna yang tinggal jauh dari Tanjung Benoa, reklamasi menjadi masalah. Ini tak hanya masalah warga sekitar lokasi.

“Reklamasi Teluk Benoa masalah warga Bali karena akan berdampak abrasi ke seluruh pesisir Bali. Reklamasi harus ditolak,” kata Priatna. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL