Washington, LiputanIslma.com–Mantan Presiden AS Jimmy Carter mengatakan, negaranya telah kehilangan posisi sebagai pemimpin hak asasi manusia global di bawah pemerintahan Donald Trump.

“Kita seharusnya menjadi juara dalam HAM. Kita adalah negara kekuatan besar, bukan hanya kekuatan militer,… namun juga komitmen kepada HAM,” kata Carter dalam sebuat acara di Carter Center di Atlanta, Georgia, pada Selasa (24/7/18).

“Kita telah kehilangan komitmen jangka panjang kepada hak asasi manusia,” tegasnya.

Menurutnya, AS seharusnya menjadi negara berkekuatan besar karena “kita mendukung hal-hal yang penting bagi semua orang di bumi.”

Pria yang kini berumur 93 tahun itu dulu menjabat sebagai presiden AS ke-39 dari tahun 1977 sampai 1981.

Acara yang ia isi adalah sebuah forum tahunan yang mendiskusikan HAM. Menurut laporan, terdapat lebih dari 60  aktivis, juru damai, dan pemimpin komunitas yang menghadiri acara ini.

Berbeda dengan apa yang dinyatakan Carter, berbagai ahli dan peneliti menyatakan bahwa AS tidak pernah menjadi pemimpin HAM. Pasalnya, sejak dulu negara ini telah menghadapi banyak isu domestik, sosial, dan ekonomi seperti kemiskinan, kejahatan, rasisme, kekerasan senjata. Selain itu, Amerika juga mendukung beberapa rezim penyeleweng HAM terbesar di dunia, seperti Arab Saudi dan Israel.

Para ahli dari PBB juga pernah memperingatkan bahwa warga Afrika-Amerika di AS menghadapi “krisis HAM” dan mereka perlu menerima ganti rugi akibat perbudakan.

Para pengamat menilai AS telah menutup mata atas situasi HAM di dalam negeri dan luar negeri, dan menggunakan isu-isu HAM sebagai “instrumen politik untuk mencemarkan citra negara lain dan mengejar kepentingan strategis diri sendiri.” (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*