US President Barack Obama meets with GerBerlin, LiputanIslam.com — Media terkemuka Jerman, “Spiegel” tgl 18 Februari 2014 lalu menyebutkan bahwa Jerman bermaksud untuk mempertahankan diri terhadap semua aksi spionase di masa mendatang, termasuk yang dilakukan oleh sekutunya, Amerika.

Jauh dari mata publik, pemerintah Jerman bergerak menuju pelaksanaan rencana untuk mengubah fokus badan mata-matanya terhadap negara-negara sekutu seperti Amerika Serikat, dan menempatkan negara yang berstatus sekutu itu pada tingkat yang sama seperti Cina, Rusia, dan Korea Utara.

Dua instansi pemerintah yang akan dipercaya memegang kendali untuk mengembalikan kehormatan yang telah hilang setelah ada kabar bahwa AS memata-matai Jerman adalah Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi dan Kantor Kejaksaan Federal.

Sikap tegas tentang masalah spionase Amerika ini terlihat dari sikap Mendagri De Maiziere dalam Konferensi Keamanan di Munich, awal bulan ini. Selama diskusi panel, ia mengangkat masalah ini saat sama Ketua Komite Intelijen DPR AS Mike Rogers dan menyebut pengumpulan data oleh NSA itu “tak terbatas”.

Menanggapi adanya tuduhan dari dokumen-dokumen yang bocor soal NSA menyadapa Kanselir Angela Merkel, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kehakiman Jerman mengirim daftar pertanyaan ekstensif ke Amerika Serikat. Setelah berbulan-bulan menunggu, Washington tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Sejumlah delegasi tingkat tinggi Jerman telah melakukan perjalanan ke Washington untuk misi pencari fakta soal aksi penyadapan itu, tetapi mereka juga kembali dengan tangan kosong.

Amerika memang memberikan sekitar 1.000 halaman dokumen yang sudah dicabut kerahasiaannya musim gugur ini, tetapi dasarnya berisi soal prosedur dan peraturan. Selebihnya dihitamkan dan informasinya tak relevan. Sebuah dokumen yang disebut sebagai “paket Jerman”, yang berisi semua data yang disalin oleh Snowden berkaitan dengan aksi spionase terhadap Jerman, dijanjikan untuk diberikan. Tapi rencana itu tak terwujud. Dan tidak ada kemajuan apapun yang berhasil dicapai tentang “no-spy agreement”. Ini adalah tawaran yang diajukan Jerman kepada AS. Namun AS sepertinya memberi sinyal tak setuju.

Partai Sosial Demokrat (PSD) yang berkuasa semakin jengkel oleh sikap tak mau tahu Amerika atas seberapa sensitif bagi Jerman soal aksi spionase NSA ini. Kata Dietmar Nietan, anggota parlemen Jerman, ketidaksepahaman dua negara soal Irak masih kalah merusak dalam hubungan dua negara dibanding soal spionase NSA ini.

Dengan latar belakang tersebut, itu benar-benar akan sesuai dengan sikap partai-partai politik Jerman, jika Jaksa Federal Harald Range bergerak maju dan membuka penyelidikan resmi dalam kasus spionase di Jerman. Jaksa Agung Jerman belum membuat keputusan untuk mengambil kasus ini, tapi tekanan meningkat di Berlin.

Dalam pembicaraan informal, menteri dari SPD Heiko Maas di Departemen Kehakiman, Steinmeier di Kementerian Luar Negeri, dan Sigmar Gabriel di Kementerian Ekonomi, telah mencapai kesepakatan dengan rekan-rekan mereka dari CDU, Peter Altmeier di Chancellery dan de Maiziere, untuk tidak menghalangi jalan menuju adanya penyelidikan atas kasus ini.

Baru-baru ini, pejabat di Kementerian Kehakiman mengisyaratkan bahwa Kantor Kejaksaan Federal akan melakukan penyelidikan. Dalam diskusi internal, Maas mengatakan, pencurian tas yang umum terjadi di negara ini saja mereka selidiki, apalagi untuk kasus besar seperti penyadapan terhadap kanselirnya.

Berlin juga serius mempertimbangkan melanggar tabu dengan memata-matai sekutunya sendiri. Kendaraan yang tersedia untuk itu adalah Seksi 4 Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi, yang bertanggung jawab atas upaya kontraspionase Jerman.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL