Tel Aviv, LiputanIslam.com–Tentara Israel menangkap ratusan buruh Palestina yang bekerja di Israel menjelang hari libur Yahudi, dalam operasi yang disebut oleh aktivis HAM sebagai operasi “rasis.”

Operasi penangkapan ini bernama “Biur Chametz,” yang artinya “membersihkan rumah dari makanan non-Kosher”. Hampir 2.300 petugas dan relawan Yahudi, didampingi oleh pasukan udara Israel, merazia belasan kawasan di Israel sejak Sabtu (24/3/18).

Dari 569 buruh Palestina yang ditangkap, 468 adalah pekerja yang dituding tak terdokumentasi.

“Operasi ini akan berlanjut sesuai dibutuhkan di kawasan yang berbeda, sebagai bagian dari tindakan keamanan,” kata juru bicara polisi Israel, Micky Rosenfeld.

Aktivis HAM mengecam operasi ini karena sebutannya yang berkonotasi buruk dan rasis. “Biur Chametz” merujuk kepada tradisi relijius Yahudi yaitu membuang makanan non-kosher dari sebuah rumah dengan cara membersihkan semua di permukaan, membakar sisa-sisa makanan itu, atau memberikannya ke orang non-Yahudi.

“Terminologi polisi Israel atas orang-orang ini, seperti makanan yang harus dibersihkan dan dibuang, menunjukkan karakter rasis dalam aktivitas mereka,” kata NGO Adalah dalam pernyataan pada Selasa.

Adalah menekankan bahwa tindakan tersebut merupakan “pembersihan etnis.”

“Orang-orang Palestina ini tidak punya niat menyerang siapapun namun polisi memperlakukan mereka seperti kriminal yang harus ditangkap, untuk  kesalahan yang tidak mereka perbuat,” papar Adalah.

Pasukan Israel biasanya meningkatkan razia kepada warga Palestina sebelum dan selama hari libur Yahudi, yaitu dengan penangkapan besar-besaran dan penutupan perbatasan.

Menurut Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat, Israel menerapkan sistem perbudakan terhadap pekerja Palestina layaknya  rezim rasis apartheid.

Saat ini ada 100.000 buruh Palestina yang bekerja di Israel dan harus melalui pos pemeriksaan untuk menuju tempat kerja.

Israel mengawasi masyarakat Palestina melalui titik-titik kontrol tetap dan bergerak yang mereka didirikan di Tepi Barat yang diduduki.  (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*