natalMojokerto, LiputanIslam.com — Kelompok Jamaah Ansharus Syariah (JAS) akan tetap menyerukan larangan mengucapkan selamat Natal, kendati ada larangan dari pihak kepolisian. Mereka juga melarang pramuniaga di toko, minimarket, supermarket, ataupun mall mengenakan aksesori Natal.

“Dakwah ini tetap kami lakukan sampai tanggal 25 Desember nanti. Seorang muslim haram ikut merayakan Natal,” kata juru bicara JAS, Ahmad Fatih, Jumat, 19 Desember 2014 seperti dilansir tempo.co.

Kepolisian Resor Mojokerto Kota sempat mencegah belasan anggota JAS yang hendak menyebarkan selebaran dan membentangkan spanduk berisi larangan mengucapkan Natal dan menggunakan aksesori Natal bagi muslim pada Rabu, 17 Desember 2014. Setelah diajak berdialog di markas kepolisian setempat, para anggota JAS batal melanjutkan kegiatan mereka.

Fatih mengatakan, dalam berdakwah, JAS tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Ia menyatakan, bahwa JAS tidak akan memaksa seseorang, melainkan hanya mengingatkan bahwa mengucapkan selamat Natal itu haram. Fatih juga meminta kepolisian tidak bertindak berlebihan dalam menyikapi kegiatan mereka. Menurut dia, kegiatan tersebut bukan unjuk rasa dan tidak memerlukan surat pemberitahuan ke kepolisian. “Saya kira tidak perlu, karena kami berdakwah,” ujarnya.

Kepala Kepolisian Resor Mojokerto Ajun Komisaris Besar Wiji Suwartini mengakui bahwa anggota JAS akan beraksi lagi pada 22 dan 23 Desember mendatang. “Kami akan amankan pusat-pusat perbelanjaan untuk mengantisipasi gesekan,” kata Wiji.

Sampai hari ini, pro-kontra perihal ucapan selamat Natal masih menjadi polemik. Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia menyatakan bahwa ucapan selamat Natal tersebut tidak haram, sebagaimana diungkapkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Slamet Effendy Yusuf. “Kalau sebatas ucapan ‘Selamat Natal’ tidak apa-apa,” kata Slamet.

Menurut Slamet, ucapan selamat Natal merupakan wujud toleransi beragama. Ucapan itu dinilai tidak akan mempengaruhi aqidah dan identitas seorang. Sikap saling menghormati seperti itu, lanjut dia, tidak ada urusannya dengan pengakuan imani. “Namun dalam ajaran Islam, sikap toleransi bukan berarti seorang Muslim boleh menghadiri dan merayakan Natal. Aktivitas yang bersifat ibadati jelas dilarang. Islam menegaskan prinsip beribadah menurut ajaran masing-masing,” kata Slamet. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL