IRAQ_-_KURDISTAN_OILLiputanIslam.com — “Kurdistan memiliki 43,7 miliar barrel cadangan minyak dari total 143 miliar barrel cadangan minyak Irak, sebagaimana 25,5 miliar barrel cadangan minyak yang belum dibuktikan serta 3 hingga 6 triliun meter kubik gas. Konglomerat-konglomerat migas global telah berkumpul di Kurdistan dan ribuan warga barat kini tinggal di Irbil, meski kehadiran mereka tidak banyak diketahui. Dan mereka telah meggelontorkan $10 miliar investasi. Mobil, Chevron, Exxon dan Total telah berdiri, dan ISIS tidak akan diijinkan mengacaukan mereka, di tempat dimana perusahaan-perusahaan itu meraup 20% dari seluruh keuntungan.”

Demikian tulis Robert Fisk, wartawan senior Inggris, dalam satu artikelnya di media Inggris The Independent dengan judul “Iraq crisis: West’s ‘mandate’ limited by national borders – and don’t dare mention oil” tanggal 10 Agustus lalu.

Jelas dan tegas, Fisk menunjukkan jarinya pada “faktor minyak” yang menyebabkan Amerika memutuskan “campur tangan” atas konflik di Irak dengan menyerang ISIS di Irak. Lebih jelasnya lagi, Amerika memutuskan menyerang ISIS setelah kelompok teroris itu mengancam Irbil, ibukota wilayah otonomi Kurdi di Irak utara yang dikenal sebagai wilayah kaya minyak.

Sejak Perang Teluk I tahun 1991 secara sepihak Amerika dan Inggris menerapkan zona larangan terbang di wilayah selatan dan utara Irak yang dengan efektif menghancurkan setiap “ancaman” yang dilakukan regim Saddam Hussein di kedua kawasan itu selama 12 tahun. Disusul kemudian dengan pendudukan pasukan AS yang menguasai sepenuhnya Irak tahun 2003 sampai 2011.

Pendek kata, Amerika bisa melakukan apapun di Irak utara. Meski tidak seluruh wilayah Irak, terutama wilayah selatan Irak yang mayoritas adalah warga Syiah,  karena harus mempertimbangkan “faktor Iran”.

Maka “Apakah Presiden AS dan Pentagon dan Centcom, dan yang secara kekanak-kanakan disebut sebagai komisi “Cobra” di Inggris, benar-benar percaya bahwa ISIS, demi ideologi kuno mereka, akan duduk-duduk di padang pasir Ninevah dan menunggu untuk dihancurkan dengan senjata kita?”

Lanjut Robert Fisk lagi dalam tulisannya itu, meski ia tidak jujur untuk menyebutkan bahwa tujuan lain dari petualangan ISIS di Irak adalah memecah Irak menjadi 3 negara baru berdasarkan etnis yang sudah lama menjadi pembahasan para pengamat politik independen: wilayah Kurdistan di utara Irak, wilayah Sunni di barat Irak, dan Syiah di Selatan Irak.

Dengan terpecahnya Irak, satu lagi kekuatan potensial yang bisa mengancam Israel berhasil dilemahkan.

Dalam setiap langkah agresif Amerika dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah dan Afrika Utara, mulai Perang Teluk I tahun 1991, Perang Teluk II tahun 2003, kudeta Khadafi tahun 2011, konflik Suriah yang masih berlangsung hingga gerakan ISIS di Irak utara saat ini, para pejabat dan media-media massa “arus utama” Barat hampir tidak pernah menyebutkan  “faktor minyak”, meski dari kejauhan para pengamat melihat semua langkah Amerika selalu menuju ke sumber minyak.

Laporan-laporan terakhir, menurut Robert Fisk, menunjukkan bahwa produksi minyak di wilayah Kurdistan Irak mencapai 200.000 barrel per-hari dan akan ditingkatkan jumlahnya menjadi 250.000 barrel per-hari tahun depan atau sekitar seperempat produksi minyak Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang kecil, Kurdistan bisa disebut sebagai salah satu negeri kaya minyak di dunia.

Tentu sangat layak untuk dipertahankan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya, meski para pejabat dan media massa tidak pernah menyebutkannya.

Benar kaum minoritas Kristen dan Yazidi Irak telah mengalami penindasan keras kelompok ISIS. Tapi bukankah sebenarnya hal itu sudah terjadi di Suriah jauh hari sebelumnya, ketika pemberontak menindas semua kelompok minoritas: Syiah, Kurdi, Alawy, Druze dan Kristen?

Maka alasan “melindungi kelompok-kelompok minoritas dari ancaman genosida” yang digunakan Amerika untuk menyerang ISIS di Irak, sebenarnya adalah melindungi suplai minyak Kurdistan Irak ke Amerika.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL