ayatollah khameneiLiputanIslam.com — Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, hari Minggu (19/4), memerintahkan militer Iran untuk meningkatkan kesiap-siagaannya menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan musuh-musuh Iran.

“Seluruh badan-badan di bawah kementrian pertahanan dan militer serta Sepah (Pasukan Pengawal Revolusi) harus meningkatkan kesiapan militer dan pertahanan. Ini harus dianggap sebagai perintah resmi,” kata Ayatollah Khamenei.

Menolak tuduhan Iran tengah berusaha membuat senjata nuklir dan menekankan doktrin militer Iran sebagai doktrin defensif, Khamenei mengecam AS yang terus mengancam untuk melakukan serangan terhadap Iran.

“Pihak lain tidak pernah berhenti mengancam kita sepanjang waktu!” kata Khamenei dalam pidatonya.

“Setelah beberapa waktu diam, salah seorang pejabatnya kemudian mengulangi lagi berbicara tentang ‘pilihan militer di atas meja’. Pada satu sisi mereka menggertak, pada sisi lainnya mereka mendesak Iran untuk menghentikan kemajuan pertahanannya yang menunjukkan pernyataan bodoh,” kata Ayatollah Khamenei.

“Iran tidak akan pernah menerima pernyataan-pernyataan bodoh seperti itu dan negera ini telah membuktikan bahwa jika diserang, akan membalas dengan hebat. Iran akan berdiri teguh seperti kepalan tangan besi yang kuat menghadapi agresor yang tidak logis,” tambah Khamensi.

Pidato Khamenei itu muncul setelah panglima militer AS Jendral Martin Dempsey, mengatakan bahwa AS tidak akan membuang pilihan serangan militer terhadap Iran meski tercapai kesepakatan tentang program nuklir Iran dengan negara-negara besar yang tergabung dalam kelompok P5+1.

“Pilihan militer masih utuh!” kata Dempsey kepada media AS, minggu lalu.

Harapan besar rakyat Iran atas keberhasilan perundingan program nuklir Iran di Swiss, tampaknya tidak akan berjalan mulus. Justru ketika perundingan dalam masa kritis pada akhir Maret lalu, Saudi Arabia dan sekutu-sekutu Arabnya menyerang Yaman karena kekhawatiran bahwa Iran akan semakin berpengaruh di Semenanjung Arab. Pada saat yang hampir sama Menhan AS Ashton Carter juga membuat pernyataan bahwa pilihan militer terhadap Iran tidak akan pernah dicabut, bahkan jika tercapai kesepakatan tentang program nuklir Iran.

Bahkan ketika ‘kerangka kerja’ perundingan nuklir Iran telah berhasil disepakati awal bulan ini sebagai media penting untuk mewujudkan kesepakatan final yang komprehensif atas program nuklir Iran, masih terdapat perbedaan mendasar atas implementasi kesepakan tersebut. Iran bersikukuh bahwa seluruh sanksi ekonomi yang dikenakan terhadapnya harus dicabut saat perjanjian yang final dan komprehensif itu ditandatangani sebelum 1 Juli mendatang. Sementara AS berkukuh bahwa pencabutan sanksi dilakukan secara bertahap, menyesuaikan perkembangan implementasi perjanjian oleh Iran.

Media Rusia Today bahkan menyebut perundingan nuklir tersebut hanya menguntungkan AS, karena AS mendapatkan segalanya, sementara hasil yang diperoleh Iran tidak begitu jelas. Dalam analisanya, Russia Today menyebutkan bahwa perundingan itu berhasil memaksa Iran untuk menghentikan program nuklirnya, sementara pencabutan sanksi yang diharapkan Iran masih harus melalui pengkajian badan atom internasional (IAAF), yang para pejabatnya sangat mungkin menjadi alat kepentingan AS belaka.

Menyusul kesepakatan ‘kerangka kerja’ perundingan program nuklir Iran, Rusia pun langsung mencabut larangan pengiriman 5 unit sistem pertahanan udara S-300 yang dibeli Iran tahun 2007 dan dibekukan tahun 2010 setelah munculnya larangan dari PBB. Hal itu sekilas akan akan membuat prospek serangan militer AS terhadap Iran meredup, karena senjata pertahanan udara terbaik di dunia itu akan menambah risiko bagi AS.

Namun faktanya AS tidak pernah mengendorkan ancamannya kepada Iran. Seperti dikatakan Jendral Dempsey, pilihan serangan militer itu masih ‘utuh di atas meja’. Di sisi lain, Israel yang paling keras menentang program nuklir Iran, akan segera menerima pengiriman kapal selam canggih buatan Jerman, Dolphin-2, yang memiliki kemampuan meluncurkan rudal jelajah jarak jauh berhulu ledak nuklir. Beberapa pengamat menilai pengiriman kapal selam ini merupakan respon Israel atas kesepakatan program nuklir Iran.

Sementara itu di sisi lainnya lagi Saudi Arabia dan sekutu-sekutu Arabnya yang selama ini menganggap Iran lebih berbahaya daripada Israel, juga menilai kesepakatan program nuklir Iran sebagai ancaman baru karena dengan adanya kesepakatan itu sanksi-sanksi ekonomi dan keuangan yang memukul Iran akan dicabut dan memulihkan kekuatan Iran.

Tidak mengherankan, dalam kekhawatirannya dan keputusasaan itu Saudi melancarkan serangan militer terhadap Yaman yang dianggap sebagai proxi Iran dan menjadi simbol kemenangan pengaruh Iran atas Saudi Arabia. Sebagaimana diketahui, dalam kasus Yaman kelompok Syiah Houthi yang dituduh mendapat dukungan Iran, berhasil menumbangkan pemerintahan Presiden Mansour Hadi yang didukung Saudi.

Serangan Saudi terhadap Yaman mengisyaratkan bahwa Saudi siap untuk menanggung risiko berperang melawan Iran ketika pengaruh Iran dianggap telah ‘melampaui garis merah’.

Jadi, tampaknya jalan terjal masih menghadang Iran meski perjanjian nuklir Iran bersama negara-negara besar P5+1 (AS, Inggris, Perancis, Rusia, Cina dan Jerman) berhasil ditandatangani.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL