Rombongan Indonesia di Iran

Rombongan Indonesia di Iran, sumber foto: ABNA

Qom, LiputanIslam.com — “Mungkin saja kedatangan saya di Iran ini, akan dikatakan saya sudah jadi agennya Syiah. Tapi saya sudah siap mental, itu sudah resiko dari pilihan sikap saya. Saya tetap orang NU, tetap menjaga keyakinan Ahlus Sunnah, saya merasa tidak perlu menjadi Wahabi ataupun Syiah namun tetap memilih sikap memberi penghormatan pada Syiah maupun Wahabi, ” ucap K.H Masyhari Baidhawi, MA.

K.H Masyhari Baidhawi, MA, dalam pertemuannya dengan sejumlah mahasiswa Indonesia di Qom Republik Indonesia Iran memesankan, untuk menjadi muslim yang baik dengan menyayangi sesama dan saling menghargai. “Perbedaan tidak bisa dihindari. Namun kita bisa memilih sikap untuk bisa menghargai perbedaan itu,” ungkapnya di ruang pertemuan Gedung Rektorat Universitas al Mustafa Qom, pada Rabu malam [26/2].

Pimpinan pondok pesantren Darussalam Indramayu tersebut mengawali pembicaraannya dengan memperkenalkan diri. “Saya pernah belajar di Gontor, tidak lama hanya 10 tahun. Kemudian saya belajar di Universitas Islam Madinah, disana saya digembleng untuk menjadi Wahabi, tapi saya gak bisa. Kemudian saya ke Mesir 6 tahun. Alhamdulillah S2 selesai, tapi tahun 1975 saya balik ke tanah air. Seandainya saya teruskan, saya lebih dulu Doktornya dari DR. Quraish Shihab. Saya jurusan tafsir dan ulumul Qur’an. Mengingat Birrul Walidain, ibu saya menghendaki saya pulang, saya pulang. Kemudian ibu saya menghendaki saya nikah dengan anak Kyai Fulan, saya ikut. Iya deh, asal ibu senang, saya mau. Mungkin kalau anak sekarang
jarang seperti itu. Alasannya, pacar saya akan saya ke manakan, kan begitu.
Tapi saya tidak. Saya lebih memilih birrul walidain. Dari pernikahan saya, saya memiliki 8 anak.”

“Saya ini orang Nahdatul Ulama [NU]. Saya tidak bisa diwahabikan, disuruh keras-keras, saya tidak bisa. Saya jadi muballigh di Jakarta, saya Sekjen Lembaga Dakwah di PB Nahdatul Ulama [NU] dimasa Gus Dur menjadi Rais ‘Am. Saya banyak berkecimpung di PB NU dulu. Tapi sekarang sudah tua, saya lebih memilih di pendidikan saja. Banyak pengalaman yang saya dapat. Maka tuan-tuan nanti, kalau pulang ke Indonesia, jangan menganggap orang dapat dengan mudah menerima pendapat orang lain. Apalagi –maaf- Syiah. Itu orang masih phobia, masih anti. Karena orang menyebarkan fitnah, orang Syiah itu Qur’annya gak sama dengan Qur’an kita. Padahal Qur’an yang dibaca tadi, ya ini juga. Saya di hotel, malam-malam memeriksa Al-Qur’an yang ada, saya baca, Alhamdulillah sama. Tapi begitu dasyhatnya orang menyudutkan Syiah. Maka tidak gampang untuk membuat orang lain gampang menerima,” lanjut Kyai NU tersebut.

Lebih lanjut ulama ahli dalam bidang studi Al-Qur’an tersebut menambahkan, “Kita harus cari titik-titik persamaan. Sering saya katakan dalam beberapa pertemuan. Marilah kita taqaarub. Saling cari titik pertemuan, jangan cari titik perbedaan. Jadi jangan anggap semua orang di Indonesia itu sudah intelek. Kebanyakannya tetap belum bisa menerima perbedaan. Waktu kecil saya, waktu masih di Gontor. NU dan Muhammadiyah itu saja perang. Suami istri bisa cerai karena NU dan Muhammadiyah. Tapi saya punya Kyai. Beliau mengungkapkan 30-40 tahun yang lalu. NU yang baik, adalah NU yang mencaci maki Muhammadiyah. Muhammadiyah yang baik, adalah yang mencaci maki NU. Tapi itu bukan muslim yang baik. Jadilah engkau NU
yang menghormati Muhammadiyah. Jadilah Muhammadiyah yang menghormati NU. Jadilah engkau perekat ummat, jangan jadi peruncing ummat.”

“Itu dulu. Sekarang NU dan Muhammadiyah jadi baik. Ketua NUnya, dari Gontor, ketua Muhammadiyahnya dari Gontor juga. Sudah ada pendekatan. Jadi kalau hari ini, maka slogan yang sesuai, Syiah yang baik adalah yang mengecam Ahlus Sunnah, dan Ahlus Sunnah yang baik adalah yang mengecam Syiah. Tapi itu bukan muslim yang baik. Jadilah orang Islam yang baik, hormatilah yang lain. Hormatilah yang lain. Itu mungkin suatu saat akan reda,” tambahnya.

K.H Masyhari dalam penyampaiannya turut menyinggung konspirasi asing yang disebutnya bertujuan untuk memecah belah ummat. Beliau berkata. “Karena ini, pusatnya adalah Yahudi, melalui AS, Israel dan maaf jika saya harus saya katakan, Arab Saudi. Arab Saudi itu luar biasa mendanai dengan uangnya, ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Jangan kaget, program radio ini radio itu mencaci maki ini, mencaci maki itu. Begitulah pemahaman takfiri. Maaf saya pernah dididik di Arab Saudi, memang begitu. Ini tidak bisa dibiarkan, ini memecah belah ummat. Kita disuruh bertengkar. Seperti yang terjadi di Suriah, Di Mesir kita lihat bagaimana Ikhwanul Muslimin dipecah dan sebagainya. Di Indonesia itu ada yang namanya NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, LDII, macam-macam, jadi rentan perpecahan kalau tidak waspada.”

“Maka itulah saya melihat sendiri disini. Mungkin saja kedatangan saya di Iran ini, akan dikatakan saya sudah jadi agennya Syiah. Tapi saya sudah siap mental, itu sudah resiko dari pilihan sikap saya. Saya tetap orang NU, tetap menjaga keyakinan Ahlus Sunnah, saya merasa tidak perlu menjadi Wahabi ataupun Syiah namun tetap memilih sikap memberi penghormatan pada Syiah maupun Wahabi. Kita jangan sampai menjadi ujung tombak untuk mengadu domba sesama umat Islam, seperti yang terjadi di Mesir dan sebagainya. Di Mesir itu saya enam tahun, indah. Di Suriah, masjid Sholahuddin, peninggalan-peninggalan kejayaan masa lalu, semuanya hancur. Jadi yang menghancurkan, tangan orang Islam sendiri,” tambahnya.

Beliau selanjutnya menambahkan, “Di pesantren, saya ajarkan pada santri tujuh hal, yang saya jadikan prinsip pendidikan di pesantren saya, ikhlas, mandiri, sederhana, saling menyayangi dan menghargai, moderat dalam berpikir dan bersikap, disiplin dan jujur. Kalimat ukhuwah Islamiyah, saya ganti dengan saling menyayangi dan menghormati, karena kita
tidak mengerti makna ukhuwah itu apa. Banyak yang menggemborkan ukhuwah Islamiyah tapi justru mengumbar cacian dan kebencian pada yang lain.”

Dibagian akhir penyampaiannya, ulama kharismatik Indonesia tersebut menukil Surah Al-Baqarah ayat 143. Beliau berkata,“Pegangan dan pedoman kita jelas, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, bahwa kita umat Islam itu dijadikan umat yang adil dan pilihan. Karenanya saya pesankan, marilah jadi orang Islam yang baik. Sampaikanlah pendapat anda dengancara yang paling baik, dengan bijaksana dan penuh hikmah. Sebab begitulah Al-Qur’an memerintahkan.”

“Mari kita satu Ahlus Sunnah dan Syiah. Semoga saudara-saudara kita yang mengaku dirinya Salafi-Wahabi mendapat taufik dari Allah. Kalau tidak, nanti perang. Seperti di Suriah, perang. Bashar Assad diserang oleh orang-orang Saudi, oleh orang-orang Salafi, oleh Al Qaedah, dibiayai oleh mereka, dibantu oleh Amerika. Luar biasa, hancur-hancuran. Makanya tadi saya senang mendengar disini. Bahwa disini ada Syiah, Sunni, ada Gereja, ada Yahudi, bahkan perwakilannya di Majelis juga ada. Inilah yang harus ditiru,”tutupnya.

Pertemuan yang berlangsung kurang lebih tiga jam tersebut diakhiri dengan makan malam bersama. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, KH. Luthfi Hakim, MA pimpinan pondok pesantren Ziyadatul Mubtadi-en Jakarta, Muhammad Aziz, MA, dosen UIN Jakarta, dan delegasi dari Front Pembela Islam [FPI] Sayyid Ali al Hamid dan Sayyid Idrus al Habsyi
beserta sejumlah mahasiswa Indonesia di Qom yang tergabung dalam Himpunan Pelajar Indonesia [HPI] Iran. Hadir pula, Hujjatul Islam Fulad Kar dan Hujjatul Islam Kahremani, dari pihak Universitas Al Mustafa sebagai inisiator pertemuan.

Sumber: Ahlul Bayt News Agency (LiputanIslam.com/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL