Tel Aviv, LiputanIslam.com–Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan pertemuan rahasia dengan Presiden Egypt, Abdel Fattah el-Sisi, dan Raja Yordania, Abdullah II, di resort Laut Merah Yornadia pada Februari tahun lalu untuk membicarakan rencana terkait konflik Israel-Palestina. Demikian laporan eksklusif dari koran Israel, Haaretz, pada Minggu (19/02/17).

Haaretz menyebutkan bahwa pertemuan tersebut diatur oleh pemerintahan Obama.

Menurut Haaratz, ketiga pemimpin negara tersebut  membicarakan rencana yang pertama kali dibuat oleh mantan Menlu AS, John Kerry, yaitu pengakuan Israel sebagai “negara Yahudi” dan pengaturan kembali negosiasi dengan pemerintahan Palestina dengan dukungan negara-negara Arab.

Rencana ini namun gagal setelah Netanyahu mencabut dukungannya terhadap rencana tersebut dengan alasan adanya oposisi keras dari Partai Likud. Sementara itu, menurut laporan, Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak mengikuti pertemuan tetapi diberitahu tentang hasilnya oleh Kerry.

Salah satu isi rencana yang dibuat Kerry adalah bahwa Israel and Palestina harus membagi kawasan Yerusalem sebagai ibukota mereka, di mana Tel Aviv menyebut Yerusalem sebagai ibukota yang “tak bisa dibagi”.

Dalam beberapa hari terakhir, anggota koalisi Netanyahu memuji pernyataan kontroversial oleh Presiden AS Donald Trump bahwa ia terbuka untuk solusi apapun untuk mencapai perdamaian.

“Saya mendukung solusi dua-negara maupun satu-negara, dan saya menyukai solusi yang dipilih kedua pihak,” kata Trump dalam konferensi pers dengan Netanyahu, pada 15 Februari lalu.

Namun, Duta AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan bahwa Washington tetap mendukung solusi dua-negara. Demikian juga yang dinyatakan oleh Menteri Hubungan Militer Israel, Avigdor Lieberman, dalam Konferensi Keamanan Munich ke-53. “Tak diragukan lagi, pada akhirnya yang dipilih adalah solusi dua-negara,” katanya. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL