ukraine unrestKiev, LiputanIslam.com — Di tengah aksi-aksi demonstrasi yang semakin memanas di Ukraina, berbagai laporan menyebutkan keterlibatan warga Israel yang diduga kuat sebagai agen-agen rahasia Mossad, dalam aksi-aksi demonstrasi tersebut.

Setidaknya 3 media internasional, situs Internasional Business Times (IBT) dari Inggris, Jerussalem Post dari Israel dan Press TV dari Iran, menyebutkan laporan media-media lokal tentang keterlibatan agen-agen Israel dalam aksi-aksi kerusuhan di Ukraina tersebut.

IBT dalam laporannya hari Selasa (18/2) menyebutkan mengenai keterlibatan seorang mantan perwira militer Israel dalam memainkan peran utama pada aksi-aksi unjuk rasa anti-pemerintah di negara bekas Republik Soviet itu.
Menurut laporan tersebut, seorang perwira Israel yang tidak disebutkan namanya itu memimpin sekelompok militan yang terdiri dari 20 warga Ukraina. Empat orang Israel lainnya, yang juga mantan perwira militer, dilaporkan baru-baru ini ikut ambil bagian dalam unjuk rasa di Ibukota Ukraina, Kiev. Mereka lahir di Ukraina namun kemudian pindah ke Israel dan bergabung dalam militer Israel sebelum kembali ke negara Eropa tersebut untuk berunjuk rasa.

Media-media Ukraina juga menyebutkan para milyarder Israel yang mendanai oposisi Ukraina, dan bahwa agen intellijen Mossad adalah salah satu provokator terjadinya kerusuhan di negara tersebut.

Alexandra Oleynikova, seorang aktifis demonstrasi berdarah yahudi yang mengorganisir kelompok Limmud Conferences, mengatakan kepada Jerussalem Post bahwa, sementara sebagian orang-orang yahudi menjauh dari konflik, para aktifis muda yahudi yang bekerja untuk organisasi dan badan-badan internasional seperti JDC, Hillel dan Limmud aktif mendukung aksi-aksi demonstrasi di Ukraina.

Sementara itu media Israel lainnya, Jewish Telegraphic Agency (JTA) juga melaporkan: “Sejumlah yahudi muda terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi yang melibatkan sejumlah kelompok koalisi pemuda-pemuda liberal dan pemimpin-pemimpin oposisi, termasuk anggota-anggota ultranasionalis Svoboda (Freedom) Part, yang pemimpinnya, Oleh Tyahnybok, dengan bebas menyebarkan tuduhan anti-semit”.

Reaksi Keras Pemerintah

Penyerbuan Lapangan Kemerdekaan (Independence Square) oleh aparat keamanan, Selasa (18/2), yang menyebabkan terjadinya bentrokan berdarah yang menewaskan sekitar 20 orang, 7 di antaranya polisi, merupakan reaksi keras pemerintah yang selama ini berusaha menahan diri.

Sejauh ini pemerintah telah mengabulkan semua tuntutan demonstran, mulai dengan pengunduran diri perdana menteri, pencabutan UU anti-demonstrasi, pembebasan para tahanan dan pemberian amnesti hingga pengurangan kekuasaan presiden. Namun tokoh-tokoh oposisi dan para demonstran justru menuntut pengunduran diri Presiden dan penandatanganan kerjasama dengan Uni Eropa yang telah dibatalkan.

Para pejabat medis Ukraina menyebutkan, selain 7 polisi yang tewas, sekitar 160 polisi mengalami luka-luka dalam kerusuhan di Lapangan Kemerdekaan, 39 di antaranya akibat tembakan peluru tajam para demonstran. Sementara korban terluka dari para demonstran mencapai 185 orang.

Jaksa Agung Ukraina menyatakan tekadnya untuk menindak tegas para pelaku kerusuhan tersebut.

Sementara itu seorang politisi Rusia yang merupakan sekutu pemerintah Ukraina, Alexei Pushkov, menyebut apa yang terjadi di Ukraina telah mengarah kepada perang saudara. Ia menuduh negara-negara barat bertanggungjawab atas semua kerusuhan tersebut.

Menurut Puskhov, barat tengah berusaha mengulangi skenario “Revolusi Orange” untuk merebut kekuasaan di Ukraina dengan menggunakan aksi-aksi demonstrasi dan kerusuhan.(ca/lb/press tv/ibt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL