Iran IsraelLiputanIslam.com — Israel, yang  akhirnya meminta kepada Iran untuk sama-sama menahan diri, menunjukkan dimana posisi Israel hari ini. Dengan pertimbangan kerugian yang akan diderita Israel jika melanjutkan konfrontasi dengan Hizbullah, maka keputusan ini adalah sebuah langkah yang rasional. Namun harus diingat kembali bahwa di balik sikap rasional Israel hari ini, negara Zionis itu juga memiliki catatan keakuan yang sangat panjang.

Pertama, terhadap rakyat Palestina.

Agresi militer Israel ke Jalur Gaza dalam Operation Protective Edge telah menewaskan lebih dari 2.000 korban jiwa, melukai belasan ribu penduduk dan menghancurkan ribuan rumah. Gaza hancur lebur. Dan usai gencatan senjata disepakati antara kedua belah pihak yang berseteru, Israel kembali berulah dengan melakukan penyerangan terhadap Gaza. Israel menembaki anak-anak, menyerang nelayan Palestina yang tengah mencari ikan, juga, menahan ribuan warga Palestina tanpa peradilan yang jelas.

Kedua, pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.

Israel, secara rutin telah menyerang Suriah di berbagai titik, kendati tidak pernah mengakuinya secara terang-terangan. Menurut Bashar al-Assad, setiap kali tentara Suriah mencapai kemajuan signifikan di lapangan dalam menghadapi teroris, maka Israel akan segera menyerang Suriah dengan pesawat tempur. Itulah mengapa, di Suriah menyebar lelucon,”Kata siapa Al-Qaeda tidak memiliki pasukan angkatan udara? Mereka memiliki Angkatan Udara Israel.”

Penyerangan terhadap Suriah, berarti pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati antara kedua negara. Assad menjelaskan lebih lanjut bahwa pihaknya tidak pernah melakukan serangan terhadap Israel sejak  tahun 1974. Hal sebaliknya dilakukan Israel, sehingga tindakan ini bisa diartikan sebagai deklarasi perang.

Kejahatan Israel lainnya adalah, dengan membantu mendanai, mempersenjatai, dan bahkan merawat para pemberontak/ teroris yang beroperasi di Suriah.

Ketiga, pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon.

Berulang-ulang kali, tentara Israel menembakkan roket ke wilayah, menyusul sikap Hizbullah yang memutuskan untuk terjun langsung ke perang Suriah. Hizbullah yang mendukung Assad, bahu-membahu bersama tentara Suriah dan paramiliter dalam menghadapi kelompok teroris. Akibatnya, pihak yang merasa dirugikan atas langkah Hizbullah ini, baik itu Israel ataupun kelompok jihadis, menyerang Lebanon dengan menargetkan rakyat sipil. Namun Sekjen Hizbullah Sayyid Nasrallah menyebutkan, bahwa serangan itu tidak akan menyurutkan pasukan Hizbullah untuk tetap membela Suriah.

“Salah satu jawaban kami atas aksi seperti ledakan di Beirut adalah, jika kami punya seribu pasukan di Suriah, maka jumlah mereka kami jadikan dua ribu, dan jika kami punya lima ribu, maka mereka akan menjadi 10 ribu, karena kalian salah memilih lokasi untuk aksi peledakan. Jika perang melawan para teroris diwajibkan, saya sendiri dan seluruh pasukan Hizbullah akan berangkat ke Suriah untuk membela rakyat Suriah, Lebanon, Palestina, Baitul Maqdis dan poros perlawanan.”

Keempat, kejahatan terhadap Iran.

Serangkaian pembunuhan telah terjadi yang menargetkan para ilmuwan nuklir Iran, seperti Masoud Ali Mohammad, pada tahun 2010, yang meninggal ketika sebuah bom dikendalikan dari jarak jauh meledakkan sebuah sepeda motor yang diparkir tepat disamping mobilnya. Masih di tahun yang sama, seorang profesor fisika nuklir, Majid Shahriari, yang memiliki spesialisasi dalam transportasi neutron, terbunuh ketika mobilnya ikut meledak. Istrinya mengalami luka serius dalam serangan tersebut. Badan Intelejen Israel, Mossad, diduga berada dibalik serangan ini.

Selain itu, Israel juga memata-matai Iran dengan menggunakan pesawat tak berawak. Hal ini terungkap ketika pada Agustus 2014 lalu, Iran menyatakan bahwa pihaknya telah menembak drone Israel yang mendekati lokasi reaktor nuklir. Pesawat tak berawak negeri zionis itu diduga hendak memata-matai pengembangan uranium Iran.

Dengan melihat berbagai kasus diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa Israel memang gemar memancing huru-hara di kawasan. Namun di hadapan dunia internasional, Israel selalu memposisikan dirinya sebagai pihak yang teraniaya.

“Negara kami yang bertetangga dengan negara-negara Arab yang suka  ‘main keroyokan’. Kami harus menghadapi kelompok teroris seperti Hamas dan Hizbullah yang menghujani Israel dengan roket. Suriah dan Iran telah membantu menyuplai senjata untuk para teroris itu,” demikian narasi-narasi yang dibangun oleh media Israel untuk mendeskripsikan kondisi negaranya yang ‘menyedihkan’.

Sebaliknya, Nasrallah, justru menyebut Israel ibarat kanker mematikan yang menggerogoti tubuh. Pernyataan ini tentu saja mengingatkan kita terhadap pengakuan Henry Bannerman, Perdana Menteri Inggris pada tahun 1906, sebagaimana yang dipaparkan oleh M Arief Pranoto, peneliti Global Review;

“Ada sebuah bangsa (Bangsa Arab/ umat Islam) yang mengendalikan kawasan kaya akan sumber daya alam. Mereka mendominasi pada persilangan jalur perdagangan dunia. Tanah mereka adalah tempat lahirnya peradaban dan agama-agama. Bangsa ini memiliki keyakinan, suatu bahasa, sejarah dan aspirasi sama. Tidak ada batas alam yang memisahkan mereka satu sama lainnya. Jika suatu saat bangsa ini menyatukan diri dalam suatu negara; maka nasib dunia akan di tangan mereka dan mereka bisa memisahkan Eropa dari bagian dunia lainnya (Asia dan Afrika). Dengan mempertimbangkan hal ini secara seksama, sebuah “organ asing” harus ditanamkan ke jantung bangsa tersebut, guna mencegah terkembangnya sayap mereka. Sehingga dapat menjerumuskan mereka dalam pertikaian tak kunjung henti. Organ itu juga dapat difungsikan oleh Barat untuk mendapatkan objek-objek yang diinginkan” (JW Lotz, 2010).

***

Kanker yang dibiarkan bercokol di dalam tubuh, lambat laun akan memasuki stadium yang lebih tinggi dengan resiko bahaya yang juga jauh lebih besar. Ketika hari ini Israel menawarkan untuk tidak memperpanjang konflik — lalu menimbang rekam jejak rezim Zionis yang tidak pernah benar-benar menepati janji, dan konsisten dalam melakukan berbagai makar di kawasan, maka, haruskah tawaran ini diterima? Mudah-mudahan tidak. Dengan posisi yang saat ini berada di atas angin, aliansi anti-Zionis (Iran-Suriah-Hamas-Hizbullah), punya kesempatan untuk meningkatkan daya tawar guna menekan Israel. (ba)

Bagian pertama, bisa dibaca di sini

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL