israeli sufferLiputanIslam.com — Mungkin untuk tahun-tahun mendatang Israel tidak akan lagi berani menyerang Gaza.

Hanya dalam waktu 5 hari sejak Israel melancarkan serangan darat ke Gaza tanggal 18 Juli lalu, 32 tentara Israel telah tewas di tangan para pejuang Palestina, dan jumlah itu terus bertambah dari hari ke hari. Padahal dalam perang Gaza sebelumnya dimana Israel melakukan serangan darat pada akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009, Israel hanya mengakui kehilangan 9 tentaranya.

Ini tentu mengingatkan Israel dengan Perang Lebanon tahun 2006, ketika Israel harus kehilangan 121 tentaranya dalam perang yang berlangsung selama 33 hari. Dan karena korban yang begitu besar di mata Israel itu, mereka pun segera menarik diri dari Lebanon.

Bayangan Israel bahwa mereka bisa memperlakukan Lebanon seperti dalam perang tahun 1982, dimana hanya dalam waktu beberapa hari saja bisa menduduki separoh wilayah Lebanon, mengepung Beirut, dan memaksa pemerintah Lebanon menandatangani perjanjian damai yang menguntungkan Israel, sejak tahun 2006 itu hanya menjadi kenangan Israel.

Padahal selama ini bagi Israel, menyerang Palestina, atau Lebanon hanyalah sebuah permainan untuk mengalihkan persoalan internal mereka, atau bagi pemerintah hanya sekedar pencitraan untuk menarik simpati publik Israel yang “haus darah”.

Jauh dari “mitos” bahwa tentara Israel adalah tentara terbaik di dunia yang tidak terkalahkan, tentara Israel, sebagaimana juga para pemimpinnya,  adalah tentara paling pengecut di dunia. Bagaimana tidak? Membunuhi warga sipil tak berdosa adalah sebuah ukuran kepengecutan yang tidak bisa dibantah, dan tentara Israel adalah juaranya di antara tentara negara-negara di dunia.

Berbeda dengan kakek-kakek mereka yang berlarian melihat tank-tank Israel dalam perang tahun 1948 dan 1967, para pejuang Palestina, khususnya anggota-anggota Brigade al-Qassam yang merupakan sayap militer Hamas, telah membuktikan diri sebagai salah satu pejuang paling tangguh.

“Mereka telah menjalani latihan intensif, mereka disuplai dengan baik dan memiliki motivasi tinggi. Kami telah telah berhadapan dengan pasukan yang sangat kuat di medan perang,” kata Jubir militer Israel Letkol Peter Lerner.

Sementara seorang perwira Israel lainnya, Anshel Pfeffer mengatakan kepada media Israel Haaretz:

“Saya pernah bertempur di Shujaiyeh sebelumnya namun tidak pernah melihat mereka seperti sebelumnya. Perlengkapan dan taktik mereka sama seperti Hezbollah. Jebakan-jebakan rudal dan bom-bom berkekuatan tinggi di mana-mana, dan mereka berdiri dan bertempur, tidak melarikan diri seperti sebelumnya.”

Peran Hizbollah dan Iran yang telah menjadikan Hamas begitu tangguh telah menjadi pengetahuan umum di dunia dan diakui sendiri oleh Israel.

“Mereka dilatih oleh Iran. Mereka murid-murid sekolah yang didirikan Iran. Mereka adalah buah dari proses pemikiran Iran. Mereka adalah Iran dengan Hizbollah. Mereka memiliki tipe dan taktik yang sama sejauh kami melihatnya,” kata Charles Lister, pakar keamanan dari Brookings Center kepada Reuters.

Jika kita melihat ke latar belakang sejarah, militer Israel tidak pernah benar-benar bertempur dengan gigih dan memenangkan pertempuran dengan gemilang. Dalam perang tahun 1948, dengan pengecualian milisi Ikhwanul Muslimin yang benar-benar bertempur karena jihad, Israel hanya bertempur melawan kabilah-kabilah Arab yang tidak berdisiplin dan dengan para pemimpinnya yang pengecut.

Dalam Perang 6 Hari tahun 1967, Israel melakukan tindakan pengecut yang luar biasa. Setelah melakukan serangan dadakan tanpa peringatan dan merebut wilayah-wilayah Arab yang sangat luas termasuk Sinai, Golan, Gaza, Tepi Barat dan al Quds (Jerussalem), mereka menggunakan pengaruh Amerika untuk memaksakan gencatan senjata tanpa syarat pengembalian wilayah-wilayah yang diduduki Israel.

Selanjutnya dalam Perang Lebanon I tahun 1982 Israel hanya berhadapan dengan pasukan-pasukan Palestina yang tidak berdisiplin dan milisi-milisi Lebanon yang tercerai berai.

Sebaliknya ketika berhadapan dengan pasukan-pasukan yang bertempur dengan gigih dan determinan, seperti dalam Perang Yom Kippur tahun 1973 atau Perang Lebanon II tahun 2006, Israel langsung “ngeper” dan buru-buru menawarkan gencatan senjata melalui Amerika, atau sekutu-sekutu Arabnya.

Tidak heran jika dalam Perang Gaza tahun 2008/2009 yang berlangsung 3 minggu, Israel pun segera menawarkan gencatan senjata. Perang Lebanon II sendiri hanya berlangsung selama 33 hari. Ditambah perang tahun 1967 yang hanya berlangsung selama 6 hari, menjadi bukti bahwa tentara-tentara Israel yang dimanjakan dengan fasilitas mewah dan terbiasa hidup dalam kesenangan berkat bantuan dan perlindungan Amerika, tidak mungkin bisa bertahan lama dalam pertempuran yang brutal.

Maka hasil perang Gaza yang saat ini tengah berlangsung pun bisa ditebak dengan tepat. Setelah gagal menghancurkan kekuatan militer pejuang Palestina dan dengan korban sipil dan militer yang tinggi yang ditanggung Israel, melalui Amerika dan sekutu-sekutu Arabnya, karena Israel tidak ingin dipermalukan di mata internasional, akan ditawarkan gencatan senjata kepada para pejuang Palestina.

Para pejuang Palestina yang telah mengetahui watak dan sifat Israel tentu saja akan memanfaatkan kondisi ini untuk “tawar menawar”. Mereka baru bersedia menerima gencatan senjata dengan syarat-syarat yang menguntungkan Palestina.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL