Mideast Lebanon HezbollahLiputanIslam.com — Selain memiliki keahlian mumpuni di bidang militer, satu keistimewaan Hizbullah adalah kemampuannya bersilat lidah untuk memainkan perang psikologi (dan terbukti sangat efektif). Anda yang menyanggah, dan menganggap bahwa kata-kata tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam sebuah perang, mungkin bisa belajar dari kasus Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam memerangi illegal fishing.

Indonesia memiliki laut yang sangat luas. Namun sayangnya, anggaran yang dimiliki pemerintah untuk menjaga laut ini sangatlah kecil. Untuk mengoperasikan kapal-kapal laut dan menjaga tiap inchi perairan kita, pemerintah jelas tidak sanggup. Pada tahun 2014, terungkap bahwa TNI harus berhutang sebesar 6 triliun rupiah kepada Pertamina untuk membiayai patroli laut.

Susi memahami benar kesulitan ini. Ia pun memainkan perang psikologi melalui kata-kata, mengancam bahwa semua kapal ikan asing yang tertangkap memasuki perairan Indonesia tanpa izin akan dibakar. Ia mengundang para dubes asing dan menandatangani perjanjian, sehingga ke depannya, jika ada maling ikan yang tertangkap, pihak asing tidak bisa mengelak lagi karena mereka telah diwanti-wanti.

Benar saja, tak lama setelahnya, TNI dan Kementrian KKP berhasil menangkap kapal –kapal asing yang mencuri ikan di Indonesia. Setelah melalui proses peradilan, kapal ikan itu pun diledakkan, dan mengundang media-media nasional dan internasional. Peledakan pertama 3 kapal ikan asing tersebut menjadi berita dimana-mana, apalagi foto-fotonya sangat dramatis. Peristiwa ini merupakan strategi Susi untuk memerangi mental para maling, agar tidak berani masuk ke perairan Indonesia, karena sanksinya sangat berat. Dan strategi ini terbukti sangat sukses. Nelayan Indonesia mendapatkan hasil ikan yang melimpah dengan mudah, tidak seperti dulu ketika harus bersaing dengan para maling yang memiliki peralatan yang lebih canggih.

Kembali kepada keahlian Hizbullah bersilat lidah. Setiap kali Sekretaris Jenderal Sayyid Hasan Nasrallah berpidato, maka pesan-pesannya selalu menghiasi media massa internasional, terutama sekali media massa Israel. Bahkan syuhada Palestina Qatanani, bersama ayahnya, selalu menantikan pidato-pidato Nasrallah, karena menganggap pidatonya bisa menghidupkan kembali semangat perlawanan yang meredup.

Di antara ucapan-ucapan Nasrallah yang terkenal adalah ketika ia menyebut Israel sebagai jaring laba-laba. Sungguh sangat berkebalikan dengan klaim Israel selama ini, yang menganggap negaranya sebagai negara dengan kekuatan militer terdahsyat di Timur Tengah. Israel sesumbar memiliki Iron Dome (kubah besi), sistem pertahanan udara yang tidak akan bisa ditembus. Namun roket Hizbullah, Hamas, dan drone Iran, berhasil merobek Iron Dome dan mematahkan klaim tersebut.

Nasrallah juga pernah berkata bahwa musuh tidak mengetahui siapa yang mereka hadapi. “Kalian berhadapan dengan putera-putera Ali…” ucap Nasrallah, yang mampu membakar semangat para pejuang Hizbullah, sekaligus menciutkan nyali musuh. Sayyidina Ali terkenal sebagai pahlawan perang yang tidak pernah terkalahkan, dan hampir selalu menjadi penentu dalam kemenangan. Saat perang Badar, dari sekitar 70 kaum musyrikin Quraisy yang tewas, setengahnya terbunuh di tangan Ali. Saat perang Khandaq, Ali yang membunuh jagoan perang musuh yang paling ditakuti, yaitu Amr bin Abdil Wudd. Saat perang Khaibar melawan Yahudi yang berkhianat pada perjanjiannya dengan Nabi Muhammad Saw, Ali yang berhasil membobol pintu gerbang benteng Khaibar yang tidak mampu dijebol puluhan orang. Menggunakan narasi ‘putera-putera Ali’ untuk menggambarkan Hizbullah, adalah upaya Nasrallah menyampaikan pesan bahwa pasukan perlawanan ini tidak terkalahkan.

Dalam konflik yang semakin memanas di Suriah, Hizbullah kembali mengirimkan pesan kepada musuh bebuyutannya, Israel. Seperti diketahui, pesawat Israel kerap melanggar wilayah udara Lebanon, melakukan pengintaian untuk menargetkan pejuang-pejuang Hizbullah. Namun baru-baru ini, pejabat senior Israel menyatakan bahwa Hizbullah telah memasang sistem pertahanan udara buatan Rusia di Lebanon, yang tidak akan memberikan ampun kepada pesawat-pesawat Israel.

“Teknologi sistem pertahanan udara Hizbullah mampu mendeteksi keberadaan pesawat-pesawat kami, sehingga pilot tempur kami yang biasanya terbang bebas di udara Lebanon, kini menghadapi tantangan baru,” kata pejabat Israel tersebut, (Al Akhbar, 15 Februari 2016).

Benarkah Hizbullah memasang sistem pertahanan udara Rusia seperti klaim Israel? Tidak ada pernyataan resmi Hizbullah mengenai hal itu. Tetapi, Wakil Pimpinan Hizbullah, Syaikh Naim Qassem dalam wawancaranya menyebut bahwa Hizbullah siap bertempur dengan Israel dimanapun, kapanpun.

“Entitas Zionis mempersiapkan kekuatan internal untuk perang di masa depan dengan Hizbullah, yang artinya, ancaman dari Israel selalu ada. Dan tentu saja, Hizbullah telah siap untuk melawan Israel di setiap lini, pejuang perlawanan telah bersiap-siap untuk menghadapi segala skenario perang.”

Pernyataan Qassem mengisyaratkan bahwa klaim Israel benar adanya. Siap bertempur di front manapun, berarti bahwa Hizbullah siap membabat Israel di darat, laut ataupun udara. Hizbullah memasang sistem pertahanan udara agar pesawat Israel tidak seenaknya menerobos Lebanon, tanpa takut adanya sanksi. Dengan dipasangnya sistem pertahanan udara ini, masih beranikah Israel lalu lalang di langit Lebanon?

Selain itu, Qassem juga menyinggung tentang kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang kini terdesak di Suriah pasca ditutupnya jalur-jalur logistik oleh pasukan gabungan (tentara Suriah, Hizbullah, Iran dan Rusia). Qassem menyebut bahwa ISIS hanyalah paper tiger (macan yang terbuat dari kertas). Terlihat menakutkan, tetapi sebenarnya sangat rapuh. ISIS berani melakukan kekejaman kepada warga sipil, atau kepada para tawanan. Namun sesungguhnya kelompok teroris ini sangat lemah dan masih ‘menyusu’ pada negara-negara pendukungnya seperti Turki, Barat, dan negara-negara Arab. Ibarat mainan dari kertas, ISIS sangat mudah untuk dibakar dan menjadi abu. Tanpa adanya dukungan dari induknya, kehancuran ISIS, tinggal menghitung waktu. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL