Teroris ISIS asal Indonesia

Teroris ISIS asal Indonesia

Jakarta, LiputanIslam.com – Kelompok teroris transnasional Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam sebuah videonya menampilkan jihadis asal Indonesia. Bertempat di sebuah pantai, seorang pria berbaju hitam yang menjadi juru bicara, dengan berapi-api mengajak kaum Muslimin untuk bergabung, berjihad dan berbaiat kepada ISIS.

Abu Muhammad al-Indonesiy, demikian namanya,  berbicara dalam bahasa Indonesia.

“Keluarkan semua upaya Anda baik dengan menggunakan kekuatan fisik maupun materi Anda untuk Negara Islam. Ini merupakan kewajiban diperintahkan oleh Allah.”

Negara Islam yang dimaksudnya adalah beberapa wilayah di Suriah dan Irak yang dicaplok ISIS. Disana, ISIS mendeklarasikan Negara Islam/ Khilafah Islamiyah dengan pemimpin Abu Bakar al-Baghdadi.

Abu Muhammad juga mempertanyakan kaum Muslim tinggal di Barat, yang dianggap enggan untuk berjihad.

“Apakah istri Anda menjadi alasan yang mencegah Anda berjihad? Apakah rumah Anda, bisnis dan kekayaan Anda lebih Anda cintai daripada kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya?”

Dalam merekrut jihadis baru, kelompok ISIS memberikan berbagai doktrin yang lazim dipakai seperti: jika tewas dalam berjihad maka akan ditempatkan di surga bersama 72 bidadari yang cantik.

Dukungan Ba’asyir untuk ISIS

Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin spiritual jaringan teroris di Indonesia, beberapa waktu yang  lalu mengungkapkan dukungannya untuk Daulah Islam Irak dan Suriah (ISIS). Bukan hanya janji setia, jaringannya juga telah bergerak untuk turut mendanai ISIS.

Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai kepada The Jakarta Post mengungkapkan pada Senin, 14 Juli 2014 bahwa Ba’asyir telah aktif membantu ISIS dalam beberapa bulan terakhir.

Kelompok pro ISIS di Bundaran HI

Kelompok pro ISIS di Bundaran HI

BNPT memperkirakan setidaknya ada 30 orang Indonesia yang telah terlibat dalam gerakan terorisme di Irak dalam naungan kelompok ISIS. Juga, dengan kelompok Jabhat Al-Nusra di Suriah yang masih beraffiliasi dengan Al-Qaeda.

Ansyaad mengatakan deklarasi dukungan Ba’asyir terhadap ISIS akan memotivasi gerakan militan radikal [di Indonesia] untuk menggalang  dana lebih banyak dan bergabung dengan kelompok teroris tersebut. Menurutnya, dukungan Ba’asyir ini juga  akan membantu menyatukan elemen-elemen dari berbagai kelompok ekstremis untuk bersatu di bawah bendera “Khilafah Islam” ala ISIS.

Quo Vadis Indonesia?

BNPT mengklaim bahwa pihaknya telah berhasil mencegah WNI pengikut Ba’asyir untuk turut berjihad ke negera-negara konflik di Timur Tengah.

“Kami telah berhasil mencegah pengikut Ba’asyir yang hendak meninggalkan tanah air untuk bergabung dengan kelompok ISIS. Dengan menginterogasi mereka, kami menemukan keterlibatan antara pendukung Ba’asyir dengan ISIS,” kata Ansyaad.

Namun di lain sisi, kelompok-kelompok pro-ISIS ini tetap saja dibiarkan tumbuh subur di Indonesia dan menggelar berbagai acara yang menyerupai seminar, untuk melakukan sosialisasi dan baiat kepada ISIS.

Terakhir, Al-Mustaqbalnet, salah satu media propaganda ISIS di Indonesia bahkan merilis sebuah majalah yang berjudul “Di Bawah Naungan Khilafah Islamiyah” yang dibagi-bagikan secara gratis kepada para peserta sosialisasi di Malang. Saat ini, majalah tersebut dijual ke seluruh Indonesia via online, dengan harga Rp.25.000.

Mengapa pemerintah membiarkan kelompok pro-teroris ini lahir, besar dan berkembang di Indonesia? Mau dibawa kemana, Indonesia kita? (ba)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL