ISIL-militantsDamaskus, LiputanIslam.com — Kelompok militan teroris yang memiliki hubungan idiologis kuat dengan Al Qaida, Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) akhirnya terusir dari Provinsi Deir Ezzor setelah terlibat pertempuran sengit dengan saingan-saingannya sesama pemberontak Suriah.

Informasi tentang terusirnya ISIL tersebut pertama kalinya dilaporkan oleh pengamat perang Suriah yang berbasis di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights, hari Senin (10/2). Menurut laporan tersebut ISIL terusir dari provinsi di Timur Suriah itu setelah bertempur sengit selama 3 hari melawan kelompok “koalisi Islam” yang di antara anggotanya adalah kelompok Al Nusra Front. Menurut laporan tersebut, “koalisi Islam” kini mengarahkan perhatiannya ke Provinsi Hassaka dan Provinsi Raqqa yang merupakan basis kekuatan ISIL. Anggota “koalisi Islam” lainnya di antaranya adalah kelompok Ahrar al-Sham dan Jund Al-Aziz.

Baik ISIL maupun Al Nusra Front adalah 2 kelompok ekstremis yang terkait dengan Al Qaida. Namun persaingan perebutan wilayah di antara keduanya membuat kedua kelompok tersebut saling bermusuhan dengan hebat. Puncaknya adalah ketika pimpinan Al Qaida Ayman Al Zawahiry memutuskan hubungan dengan ISIL dan menyatakan Al Nusra Front sebagai wakil resmi Al Qaida di Suriah.

Pertempuran antar pemberontak Suriah sejauh ini telah menewaskan sekurangnya 2.300 orang pemberontak beberapa bulan terakhir.

Dalam pertempuran di Deir Ezzur tersebut komandan Al Nusra Front Ahmad Saeed Al-Hejr tewas. Sementara Abu Al-Laith Al-Maghrebi, salah satu pemimpin ISIL, juga tewas di Al-Tabni Provinisi Deir Ezzur.

Di sisi lain di Hasaka, masih di provinsis yang sama, ISIL menangkap komandan kelompok Free Syrian Army (FSA) dan Al Nusra Front.(ca/press tv/fars news)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL