bahai-okTeheran, LiputanIslam.com, –Di Indonesia, Baha’i baru saja dinyatakan sebagai agama yang diakui pemerintah. Akan tetapi di tanah kelahirannya sendiri, Iran, mereka malah dilarang beraktivitas. Mengapa?

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menyatakan bahwa Baha’i telah diakui pemerintah sebagai salah satu agama di Indonesia. Dengan demikian, saat ini terdapat tujuh agama yang diakui pemerintah Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dan Baha’i.

Baha’i adalah agama yang lahir di Iran pada tahun 1884. Penyebar pertamanya adalah seorang bernama Baha’ullah. Dia diusir oleh pemerintah Iran dan pergi ke Turki. Lalu, dari Turki, dia pergi ke Palestina, hingga meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Kawasan tempat makamnya berada sekarang ini masuk ke kawasan kota Haifa, Israel.

Di tanah kelahirannya sendiri, Iran, Baha’i dinyatakan sebagai agama baru di luar Islam, karena sangat menyimpangnya ajaran agama ini dari akidah Islam. Secara keyakinan, Baha’i tidak dilarang oleh pemerintah Iran. Pemerintah tidak memberlakukan larangan bagi warganya untuk memiliki keyakinan tertentu. Pemerintah dan para ulama hanya mengingatkan warga Iran tentang kesesatan ajaran ini.

Meskipun secara keyakinan tidak dilarang, tapi para pengikut ajaran ini dilarang melakukan aktivitas dakwah keagamaan. Mereka dilarang tampil berdakwah, tidak diizinkan mendirikan tempat ibadah, dan juga tidak punya wakil khusus di Majlis Syura (Parlemen).

Menurut situs bahaiat.com, alasan pelarangan aktivitas keagamaan mereka ada tiga. Pertama, adalah penyimpangannya yang terlalu jauh dari ajaran agama Samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi). Ajarannya terlalu sesat dan menyesatkan.

Bait Al-'Adl yang terdapat di Haifa, Israel

Bait Al-‘Adl yang terdapat di Haifa, Israel

Kedua, para pengikut Baha’i terbukti melakukan tindakan spionase. Dikatakan Pusat Dakwah Baha’i yang diberi nama Bayt Al-‘Adl (Rumah Keadilan) terhubung dengan Dinas Intelejen Israel (MOSSAD), dan menyuplai informasi bagi Rezim Zionis Israel. Lewat penjualan informasi itulah kaum Baha’i punya dana yang cukup melimpah untuk membiayai kehidupan kelompok ini di seluruh dunia.

Kemudian, alasan ketiga, meskipun pada doktrin keagamaannya kelompok ini mengklaim sebagai kelompok yang menjauhi fanatisme kelompok, tapi di sisi lain, kelompok ini justru menganggap diri mereka sebagai kelompok dan ras terunggul di dunia. Parahnya, doktrin ini juga menyebut Iran (Persia) sebagai tanah yang dijanjikan buat pengikut Baha’i, dan harus ada upaya untuk mewujudkannya.

Doktrin ini sangat mirip dengan ajaran Zionis Israel yang mengklaim Tanah Palestina sebagai negeri yang dijanjikan. Tentu saja doktrin yang sangat rasis semacam ini sangat berbahaya bagi ummat manusia, khususnya Iran.

Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Muhyidin Djunaidi, juga menyatakan kekhawatirannya atas pengakuan Baha’i sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, karena berpotensi besar menimbulkan konflik diplomatik.

“Makam Babullah ada di Haifa, Israel. Saya kawatir pengikut Bahai akan minta izin pemerintah untuk dibolehkan ziarah ke Israel dengan alasan agama,” ungkap Muhyidin. (by)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL