Kapal Perang AS, USS Mason

Kapal Perang AS, USS Mason

LiputanIslam.com–Menyusul serangan kapal perang AS yang meluncurkan beberapa misil Tomahawk ke instalasi radar Houthi, Iran memberangkatkan dua kapal perangnya ke Teluk Aden dan Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah. Padahal di wilayah itu sudah bercokol kapal-kapal perang AS.

“Angkatan Laut Iran telah mengirim armada yang terdiri atas kapal perusak al-Wand dan kapal logistik Bushehr ke kawasan strategis Teluk Aden dan Selatan Bab al-Mandeb,” lapor kantor berita Tasnim milik Iran, Kamis (13/10/2016).

Namun demikian, pihak Iran menyatakan bahwa pengiriman kapal perang ini adalah “untuk melindungi kapal-kapal kargo Iran dari serangan bajak laut di kawasan-kawasan rawan.”

Pentagon menyatakan bahwa serangan rudal oleh kapal perang USS Nitze itu dilancarkan sebagai balasan atas serangan rudal gagal terhadap kapal perang AS USS Mason dan USS Ponce di Laut Merah yang diduga dilakukan oleh pasukan Ansarullah. Hal ini dibantah oleh pihak pejuang Yaman. (Baca: Pejuang Yaman Nyatakan Kapal AS Diserang Teroris Agar AS Membalas )

Seberapa Jauh Kemungkinan Iran Terlibat dalam Perang?

Meskipun Iran menyatakan bahwa pengiriman kapal perangnya adalah demi menjaga jalur perdagangan, muncul beberapa analisis terkait keterlibatan Iran dalam konflik ini. Analis politik dan pakar American studies, Sayed Mohammad Marandi, dalam wawancaranya dengan Russian Television (RT) menampik kemungkinan Iran akan terjun ke dalam perang.

“Saya tidak berpikir bahwa [kasus ini] sedemikian penting. Bangsa Iran memiliki kehadiran permanen di kawasan itu karena adanya problem lalu-lintas kapal Iran selama beberapa dekade terakhir, akibat kebijakan AS. Ada banyak instabilitas di Laut Merah. Dan kapal-kapal perang Iran berada di sana untuk mencegah para bajak laut menyerang kapal-kapal [barang] Iran. Mereka telah melakukannya selama beberapa tahun. Iran juga melindungi kapal-kapal negara lain. Problem utama di kawasan itu adalah kehadiran AS. Iran sangat yakin bahwa AS telah berbohong mengenai serangan misil terhadap kapal mereka. Iran menilai itu adalah berita rekayasa untuk dijadikan alasan agar AS dapat masuk ke medan tempur Yaman, untuk membangkitkan moral Saudi.

Karena, setelah Saudi sedemikian membombardir Yaman, baik pesta pernikahan, pemakaman, sekolah, dan rumah sakit, media Barat tetap diam. Para pemimpin Barat pun, misalnya Boris Johnson, terlihat tidak peduli pada bangsa Yaman yang sedang dibunuh massal oleh Saudi. Tapi, setelah semua ini, sebenarnya Saudilah yang kalah perang. Perlawanan bangsa Yaman, kaum Houthis dan Ansarullah dan militer Yaman, mereka telah sukses mengalahkan Saudi, di perbatasan Yaman dan Saudi Arabia. Iran merasa bahwa kehadiran mereka hanya untuk memfasilitasi perdagangan dan lalu-lintas kapal, sementara kehadiran AS selama beberapa dekade terakhir adalah untuk menciptakan kekacauan yang lebih banyak.”

Sementara itu, majalah politik AS, Foreign Policy, menyatakan bahwa bajak laut sudah tidak ada lagi di kawasan itu, seolah sebagai ‘gugatan’ atas alasan Iran mengirim kapal perangnya. Lebih jauh lagi, FP menyebut bahwa Pentagon mengaku tidak akan terjun ke Yaman.

“Kami tidak mencari peran yang lebih luas lagi dalam konflik ini,” kata Peter Cook, juru bicara Pentago, seperti dikuti Foreign Policy.

Cook memberi komentar itu, setelah sebelumnya, juru bicara Houthi, Brig. Gen. Sharaf Luqman Haq mengecam AS yang menyerang 3 situs radar Yaman, dan pihaknya akan melakukan balasan.

Menurut Cook, “Serangan itu tidak terkait dengan konflik meluas di Yaman, tetapi bila kami diserang kembali, kami akan menyiapkan aksi balasan lagi.”

Juru bicara Gedung Putih Eric Schultz menyatakan juga bahwa serangan AS adalah aski ‘membela diri’ dan “Akan mempersiapkan respon jika ada serangan misil lagi [kepada kapal AS]”.

Melihat rekam jejak perang AS selama, sudah sering ‘false flag’ dijadikan alasan AS untuk masuk ke dalam perang.  Misalnya saja pada Perang Vietnam. Pada tahun 1964, kapal USS Maddox dan USS Turner Joy melaksanakan patroli bersama di sepanjang Teluk Tonkin yang berjarak sekitar 18 km dan pantai Vietnam Utara. Tiba-tiba ada serangan dari kapal-kapal torpedo Vietnam Utara lalu hal itu digunakan Presiden AS untuk melancarkan serangan udara terhadap Vietnam Utara dan selanjutnya, AS mengirim pasukannya ke Vietnam.

Dari sini, agaknya bisa diperkirakan bahwa Iran memang mengirim dua kapal perangnya sebagai peringatan kepada AS agar jangan mencoba-coba berbuat rusuh di Yaman.(dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL