tentara irakSetelah minggu lalu militer Irak gagal mengusir kelompok-kelompok teroris dari 2 kota utama Provinsi Anbar, Ramadi dan Fallujah, militer Irak hari Minggu (19/1) kembali melakukan melakukan serangan gencar terhadap kedua kota tersebut dengan menitik beratkan pada kota Ramadi yang merupakan ibukota Provinsi Anbar.

Operasi militer yang melibatkan polisi, milisia-milisia pro-pemerintah serta pasukan khusus itu ditujukan untuk merebut kawasan-kawasan pemukiman di Ramadi dari kekuasaan para teroris. Dengan didukung oleh serangan helikopter dari udara, satuan-satuan militer pemerintah Irak menyerbu 5 pemukiman di distrik Malaab yang selama ini menjadi pusat pertempuran antara pasukan pemerintah yang didukung milisi-milisi pro-pemerintah melawan kelompok-kelompok teroris Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL).

Belum ada keterangan resmi tentang jumlah korban yang tewas dalam serangan tersebut baik dari pihak pemerintah maupun pemberontak. Namun, sebagaimana operasi militer sebelumnya, hampir dipastikan angkanya mencapai puluhan orang. Sementara korban serangan-serangan terorisme di Irak selama bulan ini saja sudah mencapai 600 orang.

Pada hari yang sama ketika dimulainya serangan, rangkaian serangan bom kembali melanda Irak. Sebanyak 30 orang setidaknya tewas oleh serangan-serangan bom dan tembak-menembak di kota Baghdad dan Kirkuk pada hari itu. Jumlah itu hanya sebagian kecil saja dari korban serangan-serangan teroris yang melanda Irak sejak hengkangnya pasukan pendudukan Amerika tahun 2011 lalu, yang angkanya mencapai ribuan orang. Adapun pertempuran di Anbar saat ini merupakan perang terbuka pertama antara pemerintah Irak dengan kelompok-kelompok teroris.

Perang ini dipicu oleh aksi pembersihan oleh aparat keamanan Irak terhadap kamp-kamp demonstran pemberontak di Ramadi pada tgl 30 Desember lalu. Dengan cepat aksi tersebut menyulut pemberontakan para teroris yang berhasil menguasai Fallujah dan sebagian kota Ramadi.

Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki berulangkali menuduh beberapa negara Arab seperti Saudi dan Qatar sebagai pendukung utama para pemberontak. Dalam pidatonya di kota Nasiriyah kemarin (19/1) ia bahkan menuduh negara-negara tersebut sebagai “jahat” dan “berbahaya”.

“Irak adalah sasaran dari beberapa negara pendukung terorisme dan pendukung iblis,” kata Maliki dalam pidatonya. Menurut Maliki, kerusuhan dan aksi kekerasan kini telah berkembang luas, dan suatu saat akan merembes ke negara-negara pendukung kekerasan tersebut. Namun Maliki optimis bahwa perang yang dilakukannya melawan para teroris akan dimenangkannya.

“Dunia bersama kita!” kata Maliki dalam pidatonya.

Dalam sebuah pidato yang disampaikan Maliki sebelumnya ia bahkan menyebut perang yang kini dilakukan Irak adalah “perang membela dunia, kemanusiaan dan keadilan.

Pidato Maliki tersebut terjadi pada saat pemerintah Yordania mengumumkan kesediaan menyediakan kamp latihan perang bagi personil militer Irak dalam menghadapi perang anti-teror. Pengumuman Jordania ini merupakan respon atas permintaan Amerika kepada Yordania untuk membantu Irak melawan para teroris.

Amerika sendiri, selain menyediakan pelatih-pelatih perang anti-terorisme yang akan melatih personil militer Irak di Yordania, juga menyediakan sejumlah besar senjata kepada Irak, termasuk ribuan senjata serbu M-16 dan M-4 serta ratusan rudal.

Dukungan terhadap Maliki dalam upayanya memerangi terorisme juga diberikan oleh pemerintah Iran, meski bentuknya belum diketahui publik. Bahkan, operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Irak baru terlaksana setelah Maliki mengunjungi Iran dan bertemu pemimpin tertinggi Ayatollah Khamenei. Namun Iran dengan tegas menyatakan bahwa dukungan yang diberikan kepada Irak tidak memiliki implikasi apapun atas hubungan Iran dengan Amerika dan menolak adanya kecurigaan bahwa Iran secara diam-diam melakukan kerjasama dengan Amerika di Irak.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL