rini sugiantoJakarta, LiputanIslam.com–Siapa tak kenal Kura-Kura Ninja? Karakter Teenage Mutant Ninja Turtles muncul untuk pertama kalinya pada akhir tahun 1980-an dan hingga kini masih populer. Pada awal September lalu, Hollywood merilis film layar lebar animasi Ninja Turtles garapan sutradara asal Afrika Selatan, Jonathan Liebesman. Film dengan dana pembuatan sebesar 125 juta dolar ini berhasil meraih Box Office di Amerika. Siapa sangka, ternyata ada tangan dingin anak bangsa di balik pembuatan film ini,

Adalah Rini Sugianto, animator Indonesia, yang menuangkan hasil karya animasinya ke dalam film Teenage Mutant Ninja Turtles. Sebelumnya, di akhir tahun 2013, Rini yang baru saja selesai ikut menggarap animasi untuk film the Hobbit: the Desolation of Smaug, memutuskan untuk keluar dari perusahaan milik Peter Jackson, WETA Digital, di Selandia Baru yang telah menjadi tempatnya bekerja selama 3,5 tahun. Rini kemudian hijrah ke Los Angeles, Amerika untuk berkumpul kembali dengan suaminya.

Tak lama kemudian ia mendapat tawaran dari perusahaan Indutrial Light and Magic, yaitu anak perusahaan dari Lucas Film di San Francisco, untuk ikut bergabung di tim yang tengah terlibat dalam penggarapan animasi untuk film Teenage Mutant Ninja Turtles. Proses penggarapan animasi filmnya berlangsung selama 3,5 bulan.

Rini adalah lulusan S2 jurusan animasi dari Academy of Art di San Francisco dan pernah ikut menggarap animasi dan efek visual untuk film-film Hollywood seperti the Adventures of Tintin, the Avengers, the Hobbit: An Unexpected Journey, Iron Man 3, dan the Hunger Games: Catching Fire.

Di film Ninja Turtle ini, tugas Rini sebagai animator adalah menghidupkan karakter-karakter utama di film dengan jenis photo-realistic ini, sehingga terlihat seperti karakter yang nyata.

“Untuk (film Teenage Mutant Ninja Turtles) kebetulan saya mengerjakan hampir semuanya,” ujar perempuan kelahiran tahun 1980 ini. “Kebanyakan untuk Donatello, Michaelangelo, Leonardo, atau Raphael,” tambahnya.

Ada sedikit perbedaan dari film Teenage Mutant Ninja Turtles kali ini jika dibandingkan dengan film-film yang sebelumnya.

“Desain turtlenya sendiri memang beda dengan desain Teenage Mutant Ninja Turtles yang sebelumnya,” jelasnya.

Sejak itu, karakter-karakternya mulai melejit melalui berbagai film dan komik. Karena sudah lama tidak mengikuti cerita mengenai empat kura-kura ninja ini, Rini pun kembali membaca cerita-ceritanya sebagai persiapan untuk menggarap animasi filmnya. Rini merasa ada beban tersendiri saat menggarap animasi Ninja Turtles ini.

“Ini agak mirip dengan film-film besar seperti Hobbit, karena fan basenya sudah banyak. Apalagi untuk film Ninja Turtle sudah banyak film-film sebelumnya. Jadi penggemarnya sudah ada gambaran sendiri. Seperti apa karakter dan personalitinya. Mereka punya persepsi masing-masing,” papar Rini. “Kita agak kerepotan untuk membuat everyone happy. Dan karena ini salah satu film yang ditunggu-tunggu, jadi pressure-nya lebih besar,” ujarnya.

Namun, akhirnya ia merasa lega saat melihat namanya terpampang di bagian akhir filmnya.

“Selalu senang ya. Kerja keras untuk menyelesaikan filmnya, bisa di liat di teater dan nama di credit title nya membuat saya merasa being part of the team,” kata Rini.

Di tengah-tengah kesibukannya, Rini masih aktif mengajarkan animasi melalui program mentoringnya, Flash Frame Workshop, di Internet. (dw/voaindonesia.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL