anies korpriJakarta, LiputanIslam.com–Pernyataan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, yang menyebut kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) sebagai perusak moral bangsa, memicu pendapat pro dan kontra. Bahkan, kelompok-kelompok pendukung LGBT mengajukan tuntutan hukum kepada Menteri Nasir. Namun demikian, beberapa tokoh pendidikan di Indonesia  tetap menyebut LGBT sebagai perilaku menyimpang.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, perilaku menyimpang, seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), di kalangan remaja harus menjadi perhatian bagi orang tua dan guru. Mereka guru harus menyadari pentingnya nilai-nilai yang dipegang dalam pendidikan, seperti nilai agama, Pancasila, dan budaya.

“Untuk menjaga (pendidikan) itu, maka orang tua dan guru harus sadar bahwa nilai itu harus diajarkan, ditumbuhkan, dan dikembangkan sejak usia dini. Bahkan, sebagian pakar menyebutkan sejak dalam kandungan,” ungkap mantan rektor Universitas Paramadina ini kepada Republika.co.id, Ahad (24/1).

Dirjen Paud-Diknas: Komunikasi dan Agama Cegah LGBT

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD-Dikmas) Kemendikbud Harris Iskandar. Menurut dia, komunikasi harus lebih terbuka antara orang tua dan anak. Komunikasi ini harus lebih ditingkatkan, terutama ketika anak menjelang remaja. Komunikasi dan pendekatan ini memang perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan. Jika sampai ada potensi penyimpangan, itu bisa terdeteksi dini dan bisa cepat diselesaikan.

Orang tua juga perlu mengenal lingkungan dan teman-teman anak dengan baik. Hal itu dengan harapan sang anak tidak terbawa arus negatif, termasuk perilaku LGBT. Hal ini menjadi salah satu cara untuk menjaga nilai-nilai moral pada anak. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi perilaku anomali dalam kehidupan sosial, semisal LGBT.

Di antara semua cara, Harris menegaskan, penanaman nilai-nilai agama merupakan hal yang paling harus ditingkatkan. Anak-anak perlu diajak diskusi tentang LGBT sebagai bagian perkembangan global sejak zaman Nabi Luth Alaihis Salam. Perkembangan ini harus disikapi dengan bijaksana tanpa ada hal yang keliru didapatkan dari anak.

“Yang pasti tantangan bagi kita semua adalah untuk tak henti-hentinya saling menasihati dan memberi pencerahan kepada masyarakat atau teman yang sudah deklarasikan LGBT,” kata Harris.

Psikolog Tika: Perceraian Picu Penyimpangan Seksual
Psikolog terkenal, Tika Bisono, menjelaskan bahwa pasangan yang bercerai dapat memicu disorientasi seksual seorang anak. Anak akan kehilangan salah satu sosok orang tua. Anak laki-laki bisa merasa ayahnya tidak pernah hadir dan begitu juga kebalikannya.

Jika sang anak mengadopsi ilmu dari orang tua tunggal tersebut, dia akan meniru perilaku apapun jenis kelaminnya. Tika menjelaskan, kasus anak perempuan mengadopsi perilaku ayahnya, maka ia akan berperan sebagai ayah. Ada potensi dia akan menjadi lesbian yang berperan sebagai laki-laki.

Dalam kasus anak laki-laki yang kehilangan sosok ayah, ibu harus mampu memperjelas keadaan. Karena sang ibu tidak bisa mengajarkan hal yang bersifat kelaki-lakian, solusinya, anak bisa disarankan untuk mengambil ekstrakurikuler bela diri atau sering bergaul bersama pamannya. Paman, dalam hal ini menjadi orang tua pengganti. (dw/dari berbagai sumber)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL