TNI AUJakarta, LiputanIslam.com--Tiga pesawat TNI Angkatan Udara, yakni CN 295 dan dua Hercules yang menemukan puing AirAsia QZ 8501, pada Minggu, 28 Desember 2014. Peristiwa ini disebut heroik karena yang mereka lakukan adalah sebuah aksi yang cukup beresiko tinggi, yaitu terbang di atas permukaan laut dengan ketinggian antara 1000 feet hingga 500 feet dan dalam waktu yang cukup lama, selama 4-5 jam. .

“Peristiwa ini sangat heroik,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto.

“Saya takut tim bisa vertigo, namun dengan semangat bisa menentukan posisi akhirnya pada jam 09.52 WIB, CN 295 berhasil menemukan serpihan yang menginformasikan kepada temannya di belakang, pesawat Hercules,” imbuh Hadi.

Kemudian, pesawat Hercules di belakangnya langsung menuju sasaran dengan ketinggian yang sama dan berhasil menemukan serpihan dengan jarak yang jauh. Dan pesawat Hercules ketiga yang juga ikut mendekat ke sasaran melihat serpihan dan dua mayat mengapung.

“Yang paling membanggakan kita sudah bisa melakukan operasi interoperatibility antara pesawat udara dan KRI Bung Tomo. Kru Hercules melaporkan ke KRI Bung Tomo menyampaikan pesan bahwa di sekian derajat ada serpihan dan ada nelayan yang menemukan serpihan,” terang dia.

Setelah menerima informasi itu, KRI Bung Tomo segera confirm dan langsung mendekat ke lokasi sasaran untuk mengevakuasi serpihan, dan jasad yang mengapung.

Sementara itu, Pilot Hercules TNI AU, Kapten Irwanda mengaku sempat dikabari rekannya sesama pilot Hercules, Mayor Akal, bahwa di lokasi tempat dia melakukan pengamatan ditemukan serpihan yang diduga milik pesawat AirAsia.

Kapten Irwanda yang semula mencari di area 4 langsung merubah arah dan menuju tempat dimana rekan-rekannya berhasil menemukan serpihan pesawat. “Kami disain ke 500 feet, kami temukan serpihan metal berwarna putih dan merah, beberapa live fest, yang agak besar adalah kargo penumpang,” papar Irwanda.

“Ini berkat doa rakyat Indonesia kita bisa temukan titik lokasi jatuhnya AirAsia,” imbuhnya.

Irwanda menyadari resiko yang akan dia hadapi bersama tim saat menerbangkan pesawat dengan ketinggian 500 feet di atas permukaan laut. Hal itu tetap dia lakukan untuk dapat melakukan pengamatan terhadap objek serpihan dengan jelas.

“Terbang rendah dengan speed rendah adalah suatu resiko tinggi. Tapi itu kami tempuh untuk seluruh rakyat Indonesia supaya penumpangnya dapat ditemukan,” kata perwira penerbang TNI AU ini.

Agar misi pengamatan dapat berjalan lancar, Irwanda mengaku berbagi tugas dengan ko pilotnya. “Saya fokus terbang kemudian ko pilot saya dan observer fokus untuk mencari puing-puing. Jadi antara koordinasi itu dapat dilakukan dengan baik, kami bisa mengambil foto secara langsung serpihan-serpihan yang diduga milik AirAsia,” terang dia. (fa/vivanews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL