Rose Hudson-WilkinLondon, LiputanIslam.com — Inggris untuk pertama kalinya kemungkinan bakal memiliki seorang bishop (pejabat tinggi gereja) perempuan. Tunggu, bishop perempuan itu berkulit hitam.

Lembaga yang akan memutuskan, General Synod, kini tengah mempersiapkan untuk pengambilan keputusan sangat penting itu setelah upaya sebelumnya mengalami kegagalan tahun 2012.

Calon bishop perempuan kulit hitam itu telah disetujui oleh Houses of Bishops and Clergy, namun ditolak oleh House of Laity.

Namun pemimpin tertinggi gereja, Archbishop of Canterbury Justin Welby, telah menyetujuinya. Welby mengatakan, “berharap kali ini General Synod akan setuju”.

Kepada BBC yang mewawancarainya hari Minggu (13/7), Walby juga mengatakan, “kesempatan bagus bishop perempuan pertama akan diumumkan pada akhir tahun 2015”. Ia juga berharap publik Inggris bisa mengerti penunjukan seorang bishop perempuan.

Mantan Arcbishop Centerbury Rowan Williams, mengatakan bahwa Gereja Inggris telah “kehilangan kredibilitasnya” ketika menolak wanita pertama menjadi bishop tahun 2012, saat ia masih menjabat.

Dua tahun berlalu dan komposisi General Synod tidak berubah, namun empat orang anggotanya yang dahulu menentang pengangkatan bishop wanita, telah menyatakan secara terbuka untuk mengubah pendirian mereka.

Forum General Synod sendiri akan digelar bulan November mendatang. Adapun kandidat bishop perempuan itu adalah Vivienne Faull, seorang pendeta wanita kulit hitam yang saat ini menjabat sebagai Dekan di York Minster.

Gereja Inggris merupakan istitusi paling berpengaruh dan terhormat ketiga setelah raja dan parlemen. Di masa lalu Gereja bahkan memiliki kekuasaan lebih besar dari raja.

Sesuai ajaran dan tradisi Kristen, seorang pendeta hanya dijabat oleh kaum lelaki. Namun saat ini, seiring menguatnya gerakan liberalisasi di berbagai bidang, pandangan seperti itu dianggap sudah usang. Jika (ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL