London, LiputanIslam.com—Pemerintah Inggris baru-baru ini mengeluarkan laporan mengenai kaum kulit hitam dan minoritas etnik yang cenderung menjadi pengangguran dan menjadi korban kejahatan. Hal ini memperlihatkan masalah ketimpangan rasial yang parah di Inggris.

Laporan ini dirilis pada Selasa (10/10/17) di situs pemerintah “Ethnicity Facts and Figures”. Dalam laporan ini juga disebutkan bahwa polisi tiga kali cenderung mencurigai orang Inggris non-putih.

Kaum minoritas juga lebih sering menjadi korban kejahatan dibandingkan orang kulit putih.  Berdasarkan data, 20 persen dari kaum minoritas menjadi korban selama 2016, dibandingkan dengan 15 persen dari kaum kulit putih.

Masalah lainnya mencakup pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan keadilan hukum antara kulit putih dan minoritas.

“Jumlah penangkapan yang tinggi antara kaum minoritas etnik memperlihatkan praktik diskriminasi oleh polisi,” kata Dr Zubaida Haque, associate di Runnymede Trust, dalam wawancara kepada The Independent.

PM Inggris Theresa May sebelumnya telah mengakui bahwa rakyat Inggris merasakan ketimpangan ini, dan bahwa orang-orang yang menjadi korban diskriminasi tidak butuh laporan pemerintah untuk menyadari besarnya masalah tersebut.

May juga meminta para pebisnis, pejabat, dan institusi agar tidak pernah menjadikan ras sebagai halangan bagi orang-orang untuk mencapai tujuan mereka.

Berdasarkan laporan, angka kejahatan kebencian di Inggris memuncak setelah adanya referendum untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit). Sejak saat itu, kaum minoritas menjadi korban dan tak berdaya daripada sebelumnya. Sejumlah organisasi HAM pun beberapa kali mengecam pemerintah Inggris atas kebijakan mereka tentang imigrasi yang memicu kejahatan kebencian pasca Brexit. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL