premiumJakarta, LiputanIslam.com — Pertamina mengklaim Indonesia sebagai satu-satunya negara yang masih memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dengan Research Octane Number (RON) 88, yaitu premium yang sekarang menjadi bensin subsidi. Hal tersebut disampaikan Manager Media Pertamina Adiatma Sardjito kepada pers, Selasa (6/5).

“Di dunia ini sudah tidak ada yang pakai atau jual RON 88, hanya Indonesia saja,” ungkap Adiatma Sardjito.

Adiatma mengatakan, rata-rata produksi minyak negara-negara produsen minyak, produksinya di atas RON 90-97. “Rata-rata produksi minyak di dunia saat ini di atas RON 90,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi mengatakan, di Malaysia tak ada yang menjual BBM dengan RON 92 dan di bawahnya.

“BBM di sana RON-nya di atas 92, baik itu 95 atau 97. Jadi tidak mengherankan jika BBM subsidi di sana adalah yang memiliki RON 95,” ungkap Eri.

Eri mengatakan, tidak adanya BBM dengan RON 92 ke bawah di negeri Jiran tersebut karena standar mesin kendaraan di sana adalah EURO 4.

“Di sana itu standar mesinnya EURO 4, mesin kendaraan tersebut wajib menggunakan bahan bakar dengan RON di atas 92, di Indonesia kan masih EURO 2 lebih rendah,” ungkapnya lagi.

Eri menambahkan, EURO 4 merupakan standar kendaraan yang menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan.

“Kalau EURO 4 yang bahan bakarnya RON 92-95 itu lebih bersih, lebih hemat, kalau EURO 2 kan kotor. Kenapa di Malaysia standarnya EURO 4? Itu karena kesepakatan pemerintah dan pelaku industri mobilnya, mereka ingin mempunyai kendaraan yang hemat, bersih dan tidak merusak lingkungan khususnya polusi udara,” tutupnya.

Mesin Produksi Sudah Tua
Adiatma menambahkan bahwa sebagian besar kilang minyak dalam negeri khususnya kilang-kilang milik Pertamina, hanya bisa menghasilkan BBM dengan RON 65-70.

“Produksi BBM di kilang kita itu hasil RON-nya antara 65-70,” tambah Adiatma Sardtijo.

Adiatma mengungkapkan, produksi BBM dari kilang minyak dalam negeri hanya RON 65-70 tersebut karena desain kilang dan teknologinya sudah lama sekali. Indonesia tercatat membangun kilang terakhir kali pada 20 tahun lalu.

“Itu karena kilang-kilang kita teknologinya dan desainnya model lama,” tutupnya.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL