NSAWashington, DC., LiputanIslam.com – Isu tentang penyadapan yang dilakukan Amerika terhadap Indonesia kembali mencuat setelah adanya pemberitaan harian The New York Times pada hari Sabtu (15/2) mengenai skandal penyadapan yang dilakukan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) di Indonesia.

Berdasarkan dokumen yang dibocorkan oleh Edward J Snowden, mantan kontraktor NSA yang kini berada di Rusia, termaktub bahwa NSA memantau setiap firma hukum AS yang bekerja mewakili negara asing dalam sengketa perdagangan, termasuk Indonesia.

Menurut dokumen yang diperoleh pada Februari 2013 itu, Pemerintah Indonesia telah merekrut sebuah firma hukum AS untuk menangani sengketa perdagangan dan karenanya menjadi obyek penyadapan Amerika.

Dokumen tersebut melaporkan bahwa dalam operasinya itu Amerika mendapat dukungan dari Direktorat Sinyal Australia (ASD) yang merupakan partner NSA. ASD menginformasikan kepada NSA bahwa mereka melakukan pemantauan komunikasi, termasuk terhadap pejabat Indonesia dengan firma hukum di AS. Dalam dokumen itu tertera bahwa ASD bersedia berbagi informasi dengan NSA.

Biro hukum Amerika yang tersadap tersebut tidak diidentifikasikan dalam laporan bulanan ASD itu. Namun, diketahui bahwa biro Mayer Brown adalah wakil Pemerintah Indonesia dalam isu-isu perdagangan di AS.

NSA menolak menjawab pertanyaan tentang laporan penyadapan atas firma hukum yang mewakili Indonesia ini. Duane Layton, pengacara dari firma Mayer Brown mengatakan ia tak punya bukti bahwa dia atau perusahaannya telah disadap oleh Australia maupun AS.

“(Namun) saya selalu bertanya-tanya apakah ada seseorang mendengarkan pembicaraan kami. Karena Anda naif bila tidak bertanya-tanya soal itu. Tapi saya tidak pernah benar-benar berpikir bahwa saya sedang dimata-matai,” ujarnya.

Sementara itu pemerintah Australia berkeras menolak berkomentar soal aksi penyadapan mereka terhadap Indonesia. Seperti dilansir ZDNet pada hari Minggu (16/2), perdana menteri Australia Tony Abbot mengatakan: “Kami tidak mengomentari masalah operasi intelijen,” jawab Perdana Menteri Australia Tony Abbott saat ditanya masalah ini.

Ketika ditemui di Bourke, New South Wales, Abbot hanya mengatakan bahwa hasil penyadapan tidak bermaksud untuk merugikan negara lain.

Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan AS, yang menyatakan bahwa penyadapan mereka hanya untuk mencegah tindak terorisme dan keamanan negara.

Namun, bocoran Snowden yang diulas tuntas di New York Times menunjukkan penyadapan ASD dan NSA tidak sepenuhnya untuk alasan keamanan. Dalam dokumen 2013 itu, intel kedua negara justru menyadap percakapan negosiasi sengketa dagang Indonesia-AS.

Dalam bocoran tersebut dikatakan, ASD meminta arahan dan restu dari NSA untuk menyadap percakapan perusahaan AS yang bekerja untuk Indonesia dalam menyelesaikan sengketa dagang rokok kretek dan udang pada tahun 2010 lalu. (WZ/The New York Times/ BBC/ Viva/ Liputan 6)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL