uberNew Delhi, LiputanIslam.com — India kembali diguncang oleh kasus perkosaan setelah seorang wanita mengaku menjadi korban perkosaan yang dilakukan sopir taxi “Uber”, jasa pelayanan taxi modern yang didapatkan melalui aplikasi smartphone. Akibat peristiwa ini dikabarkan polisi telah melarang “Uber” memberikan layanan pemesanan melalui aplikasi online.

Sebagaimana laporan BBC News, Senin (8/12), seorang wanita melaporkan diri ke polisi dengan mengaku telah menjadi korban perkosaan yang dilakukan oleh sopir taxi “Uber” di New Delhi. Pemeriksaan membenarkan laporan tersebut dan polisi telah menangkap tersangkanya beserta taxi yang dikemudikannya, hari Minggu (7/12).

Kasus ini terjadi di tengah besarnya perhatian publik atas banyaknya kasus perkosaan yang melanda India beberapa waktu terakhir.

Manajemen “Uber” menyatakan siap bekerjasama dengan polisi untuk menyidik kasus ini hingga tuntas.

“Pikiran kami bersama korban kejahatan mengerikan ini dan kami telah bekerjasama dengan polisi untuk menyidik kasus ini,” kata “Uber” dalam pernyataannya.

Korban yang bekerja di sebuah bank mengatakan kepada polisi bahwa ia telah memanggil taxi tersebut pada hari Jumat malam setelah makan malam di restoran.

Setelah meninggalkan korbannya, sopir tersebut juga meninggalkan taxinya dan kembali ke kampungnya di negara bagian Uttar Pradesh dimana ia berhasil ditangkap.

“Uber” yang kini tengah berkembang luas di India telah lama disorot kurang bisa menyeleksi sopir-sopirnya. Hal ini dibenarkan oleh penyidik yang menemukan fakta bahwa sebagian sopir “Uber” tidak bisa diverifikasi selain juga beberapa taxi yang dioperasikannya tidak dilengkapi dengan GPS.

Namun “Uber” yang berbasis di San-Francisco, AS, membantah tuduhan itu dengan menyebutkan bahwa keamanan adalah kunci utama dari bisnisnya. Selain melengkapi taxi-taxinya dengan GPS, mereka merekrut sopir yang berlisensi.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL