Sumber: republika.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Peneliti Indef Izzudin AL Faras menilai pemahaman masyarakat Indonesia terhadap literasi ekonomi syariah masih rendah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hanya sekitar 8,1 persen masyarakat Indonesia yang memahami literasi ekonomi syariah pada 2016.

Faras mengatakan, rendahnya literasi keuangan syariah menyebabkan banyak masyarakat Indonesia menjadi korban oleh kasus penjualan rumah berkedok syariah. Kasus penipuan ini sudah terjadi sejak 2014 hingga saat ini.

Baca: BEI Literasi Rendah Jadi Tantangan Besar Pasar Modal Syariah

Berdasarkan laporan dari Polda Metro Jaya, kebanyakan korban tertipu dengan modus penjualan rumah syariah. Proses penjualannya dianggap tanpa riba dan tanpa pengecekan Bank Indonesia.

Dia menjelaskan, sebelum melakukan transaksi syariah, ada dua hal yang harus dicek terlebih dahulu. Pertama, produk-produk keuangan syariah terdafdar dan diawasi oleh OJK. Kedua, semua lembaga keuangan syariah memiliki dewan pengawas.

Dia menuturkan, masyarakat yang ingin melakukan transaksi syariah bisa melakukan pengecekan dua hal tersebut di website lembaga keuangan tersebut.

“Kedua hal tersebut juga belum banyak diketahui dan dipahami oleh masyarakat,” ujarnya, Sabtu (30/11).

Sementara itu, OJK terus berupaya untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang produk dan jasa keuangan syariah. Salah satunya dilakukan dengan pameran literasi. Pameran literasi ini berisi edukasi tentang layanan perbankan syariah. (sh/republika/m.dream)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*