Sumber: cnbcindoneisa.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Industri evaporator dalam negeri terancam mengalami kerugian karena lonjakan volume impor produk evaporator buatan China.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam empat tahun terakhir (2015-2018) volume impor produk evaporator terus meningkat dengan tren 8,56 persen per tahun.

Volume impor selama empat tahun terakhir masing-masing sebesar 2.911 ton, 3.407 ton, 4.594 ton, dan 3.465 ton dengan rata-rata impor sebesar 3.300 ton per tahun.

Baca: Kebutuhan Tenaga Kerja Industri Bakal Naik 8% pada 2035

Dari data tersebut, China tercatat sebagai negara asal impor evaporator terbesar diikuti Thailand, Korea Selatan, dan Singapura. Pangsa impor China rata-rata per tahun sebesar 91,80 persen, Thailand 5,41 persen, Korea Selatan 1,20 persen, serta Singapura 1,18 persen.

Oleh karena itu, PT. Fujisei Metal Indonesia, selaku industri dalam negeri yang memproduksi evaporator, meminta Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) untuk melakukan penyelidikan tindakan pengamanan perdagangan (safeguards).

Ketua KPPI Mardjoko mengatakan, KPPI menemukan ancaman kerugian yang dialami industri dalam negeri.

“Berdasarkan bukti awal pemohon, KPPI menemukan adanya lonjakan volume impor barang evaporator dan indikasi awal mengenai kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang dialami industri dalam negeri,” kata dia, Kamis (13/6).

Kerugian tersebut dapat dilihat dari kinerja industri evaporator selama empat tahun terakhir. Dalam periode tersebut, volume produksi dan penjualan domestik menurun, kerugian meningkat, kapasitas terpakai menurun, jumlah tenaga kerja berkurang dan pangsa pasar industri dalam negeri di pasar domestik menurun. (sh/cnbcindonesia/newsbeezer)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*