lapindoSidoarjo, LiputanIslam.com — Peneliti dari Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya, Djaja Laksana optimistis bahwa teori bendungan Bernoulli bisa digunakan untuk menghentikan semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo yang telah berlangsung selama delapan tahun.

“Saat ini masih belum telat mengaplikasikan teori Bernoulli untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo ini,” katanya di areal semburan lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (29/5).

Ilmuwan fisika dan matematika berkewarganegaraan Belanda dan Swiss Daniel Bernoulli pada 1738 mengungkapkan teori bahwa jumlah energi pada suatu titik di dalam suatu aliran tertutup sama besarnya dengan jumlah energi di titik lain pada jalur aliran yang sama.

Djaja Laksana dalam kaitan semburan lumpur dari proyek PT Lapindo Brantas Inc. mengemukakan, saat ini secara prinsip semburan tersebut sudah ditangani dengan menggunakan prinsip bendungan Bernoulli.

“Pembangunan tanggul yang diterapkan oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) ini sebenarnya sudah mengakomodir prinsip teori bendungan Bernoulli,” katanya.

Namun demikian, ia menyatakan, bendungan tersebut masih belum bisa menghentikan semburan lumpur Lapindo dari dalam perut bumi mengingat ketinggian tanggul masih berkisar belasan meter.

“Sesuai teori tersebut, lumpur baru bisa berhenti jika ketinggian tanggul tersebut sekitar 30 meter. Tetapi, untuk mewujudkan pembangunan tanggul setinggi itu tidak bisa dikerjakan dengan mudah,” katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, pembangunan bendungan tersebut bisa dilakukan dengan cara memutar sehingga hasilnya bisa lebih maksimal untuk menghentikan semburan lumpur ini.

“Selain dibuat dengan cara memutar, pemasangan tiang pancang di dekat pusat semburan juga bisa dilakukan. Kemudian semburan lumpur yang berasal dari dalam akan dikembalikan lagi sehingga semburan akan berhenti dengan sendirinya,” katanya.

Ia mengatakan, untuk mengaplikasikan teori Bernoulli tersebut diperlukan waktu sekitar enam bulan untuk menjamin semburan lumpur benar-benar akan berhenti untuk selamanya.

“Namun, kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka ancaman penurunan tanah secara drastis kemungkinan bisa terjadi. Seperti yang terjadi di luar negeri, terjadi penurunan tanah secara ekstrem sedalam 130 meter,” katanya menambahkan.

Semburan lumpur dari proyek PT Lapindo Brantas Inc. tercatat pertama kali terjadi pada 29 Februari 2006 di Dusun Balongnongo, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Bencana ini meluas ke Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin dengan total lebih dari 10.000 unit rumah warga dan lebih dari 70 rumah ibadah terendam lumpur yang mencakup lebih dari 600 hektare.(ca/ant)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL