turkey-israelAnkara, LiputanIslam.com — Setelah sempat ramai-ramai diberitakan tentang membaiknya hubungan Israel dengan Turki, kini hubungan itu kembali diwarnai perselisihan.

Seorang pejabat senior Israel, hari Kamis (13/2), menuduh PM Turki Recep Tayyep Erdogan telah berusaha memblokir kompensasi bagi para korban pembunuhan tentara Israel terhadap penumpang kapal Mavi Marmara tahun 2010 lalu. Tuduhan tersebut dikeluarkan setelah Erdogan menuntut Israel untuk membuka blokade atas Gaza.

“Saya menyukai adanya kesepakatan dengan Turki, namun masalah ini (gagalnya pemberian kompensasi) adalah kesalahan Erdogan. Saya tidak mengerti tindakan-tindakan Erdogan,” kata Menteri Urusan Strategis Yuval Steinitz kepada radio Israel.

Israel dan Turki telah terlibat pembicaraan tentang pemberian kompensasi bagi 9 warga Turki korban tragedi Mavi Marmara selama 11 bulan. Beberapa waktu lalu para pejabat kedua negara sempat mengumumkan bahwa pembicaraan tersebut telah mendekati kesepakatan. Namun pada hari Selasa (11/2) PM Erdogan mengatakan kepada para wartawan bahwa tidak akan pernah ada kesepakatan jika Israel tidak ada pernyataan resmi dari Israel untuk mengakhiri blokade terhadap Gaza.

Belum ada pernyataan resmi dari kantor perdana menteri Israel, namun para awak wartawan mengatakan bahwa PM Benjamin Netanyahu menolak mentah-mentah tuntutan Turki tersebut.

Seorang pejabat Israel yang terlibat dalam perundingan dengan Turki mengatakan bahwa pernyataan Erdogan tentang Gaza tidak pernah menjadi pembahasan resmi dalam perundingan antara kedua negara.

“Erdogan berbicara berulangkali tentang Gaza, namun itu tidak  pernah menjadi pembicaraan resmi,” kata pejabat yang tidak disebut identitasnya kepada AFP.

Hubungan kedua negara mencapai titik terendah setelah peristiwa Tragedi Mavi Marmara bulan Mei 2010 ketika Israel menembak mati 9 orang warga negara Turki di laut lepas. Turki pun menuntut permintaan ma’af secara resmi, kompensasi bagi keluarga korban serta penghentian blokade atas Gaza.

Pada bulan Maret 2013, atas campur tangan Presiden Barack Obama, dimulai perundingan atas masalah tersebut setelah Israel memenuhi tuntutan permintaan resmi. Pada saat itu pemerintah Israel menyatakan telah bersepakat dengan Turki untuk “bekerjasama meningkatkan kondisi kemanusiaan di wilayah-wilayah Palestina”.

Israel mulai melakukan blokade atas wilayah Gaza pada tahun 2006, dan setahun kemudian, setelah Hamas memenangkan pemilihan umum dan menguasai pemerintahan Palestina, blokade tersebut semakin diperketat.

Meski Israel mengklaim blokade tersebut ditujukan untuk mencegah pengiriman senjata kepada Hamas, namun dalam praktiknya hal itu mencakup juga bahan-bahan kebutuhan dasar warga Palestina. Blokade tersebut, ditambah pembatasan-pembatasan lainnya yang dilakukan Israel (dan dengan bantuan Mesir) tidak saja di Gaza namu juga Tepi Barat, telah menghancurkan perekonomian Palestina.

Menurut laporan Bank Dunia, tingkat pengangguran di Palestina telah mencapai angka 25% pada tahun 2013.(ca/press tv/afp/al akhbar)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL