cristina y obamaLiputanIslam.com — Hubungan AS-Argentina yang memburuk akhir-akhir ini telah sampai pada titik paling rendah, setelah Presiden Argentina Cristina Fernández de Kirchner menuduh AS telah berusaha untuk menumbangkan kekuasaannya dan bahkan membunuhnya.

“Jika sesuatu terjadi pada diri saya, jangan melihat ke Timur Tengah, tapi lihatlah ke utara (Amerika),” kata Fernández dalam sebuah wawancara televisi tanggal 30 September lalu.

Lebih jauh Fernandes, dalam wawancara itu menuduh sebuah plot yang dibentuk oleh para bankir dan pengusaha Argentina dan didukung oleh kekuatan asing tengah berusaha untuk menyingkirkannya.

Sebelumnya Fernández juga telah mengaklaim menerima ancaman pembunuhan oleh Islamic State (ISIS) karena kedekatan hubungannya dengan Paus Franciscus. Namun, dalam wawancara akhir bulan lalu itu ia menyimpulkan bahwa ancaman berupa 3 e-mail yang diterima aparat keamanan Argentina itu berasal dari AS, bukan ISIS.

Inilah perkembangan terburuk dari hubungan AS dan Argentina yang memburuk akhir-akhir ini, yang disebabkan oleh penolakan Argentina membayar obligasi pemerintah yang dimiliki investor-investor yang telah jatuh tempo bulan Juni lalu.

Argentina menolak membayar $1,3 miliar yang diperintahkan oleh seorang hakim New York, Thomas Griesa, Agustus lalu, kepada para investor yang diwakili oleh 2 perusahaan “hedge fund” AS, NML Capital dan Aurelius Capital Management.

Sebenarnya jumlah yang harus dibayar adalah $900 juta pada saat jatuh tempo akhir Juni lalu, namun karena Argentina menolak membayarnya hingga satu bulan lebih, maka nilainya naik menjadi $1,3 miliar. Dari sinilah istilah “vulture funds” atau “investor pemakan bangkai” muncul bagi perusahaan-perusahaan “hendge funds” AS. Secara keseluruhan, para investor AS itu mendapatkan keuntungan hingga 1.600%.

Argentina sendiri bukan tanpa alasan logis menolak melakukan pembayaran, terutama setelah para investor AS itu menolak memberikan “keringanan” kepada pemerintah Argentina, sebagaimana investor dari negara-negara lain termasuk Eropa. Padahal selama bertahun-tahun Argentina mengalami krisis ekonomi yang tidak memungkinkannya membayar penuh hutang-hutang oblikasinya secara penuh.

“Saya tidak naif, ini bukan langkah sendirian seorang hakim di New York. Karena seekor burung pamakan bangkai tampak seperti burung-burung elang kerajaan,” kata Fernández merujuk pada AS yang memiliki simbol burung elang.

Masalah yang semestinya hanya menjadi urusannya para hakim, investor dan pemerintah Argentina itu kemudian menjadi isu politik internasional. Lembaga HAM PBB baru-baru ini bahkan mengeluarkan resolusi yang mengecam praktik-praktik “vulture funds” oleh para investor AS. Namun di sisi lain, pemerintah AS memberikan dukungan penuhnya kepada para investornya.

Bulan lalu pemerintahan Fernandez dibuat marah oleh komentar sinis Dubes AS di Argentina, Kevin Sullivan, tentang krisis pembayaran obligasi Argentina ke AS itu. Hampir saja Fernandez mengusir Sullivan pulang ke negerinya setelah menyebut Argentina telah “bangkrut”.

Di sisi lain, Fernandez, di hadapan Sidang Umum PBB akhir bulan lalu, mengecam keras kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah. Pada saat yang sama Argentina melobi PBB untuk mencegah pemegang obligasi minoritas seperti para investor AS, menghancurkan program restrukturisasi ekonomi Argentina.

Namun, sebagaimana para penentang hegemoni AS lainnya, Fernandez harus menghadapi sekutu-sekutu AS di negaranya sendiri. Sama seperti Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Maduro, Presiden Suriah Bashar al Assad, Presiden Indonesia Soekarno, Presiden Putin Vladimir Putin, Presiden Iran Ahmadinejad tahun 2009, kelompok Hizbollah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

Pemimpin oposisi Argentina, Elisa Carrio, misalnya, menuduh Fernandez sebagai “keluar dari realitas” dengan klaim rencana penggulingan dirinya itu.

“Ia (Fernandez) menciptakan teori konspirasi,” kata Carrio.

Tidak hanya itu, media-media barat pro-AS seperti The Guardian, bahkan mempertanyakan kesehatan mental Fernandez, dengan mengutip pernyataan Hillary Clinton yang sudah lewat bertahun-tahun lalu.

“Apakah ia (Fernandez) sudah berobat? Bagaimana stress mempengaruhi sikapnya dalam mengambil keputusan?” kata Hillary Clinton dalam sebuah kawat diplomatik yang sengaja bocorkan tahun 2010, dan dikutip kembali oleh The Guardian hari Rabu (1/10).

Padahal, sebagai presiden yang membawahi ribuan aparat inteligen, militer dan jajaran birokrasi sipil, pernyataan Fernandez tentang plot untuk menjatuhkan dirinya itu tentu bukan sekedar omong kosong.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL