Sumber: Presstv

Manama, LiputanIslam. Com—Human Right Watch (HRW)  telah meminta para pejabat tinggi Bahrain untuk menangguhkan hukuman mati kepada dua orang politisi yang dituduh terlibat dengan terorisme.

“Bahrain telah bergerak ke arah yang salah karena telah memberlakukan lagi hukuman mati, ” ucap Lama Faqih,  Wakil Direktur HRW di bidang Timur Tengah dan Afrika Utara yang bermarkas di New York, seperti dikutip oleh Presstv pada Jum’at (17/5).

Ia menambahkan bahwa dalam kasus apapun,  hukuman ini tetap menjadi hukuman yang kejam.  Terlebih lagi,  katanya,  terdakwa sempat mengalami siksaan dan tidak mendapatkan hak pengadilan yang adil. Bagi Faqih,  hukuman mati adalah hukuman kuno yang harus dihentikan.

Baca: Demokrasi Anti Rezim Al-Khalifah di Bahrain Semakin Menguat

Faqih menyeru kolega-kolega Bahrain di Eropa untuk menekan kerajaan itu agar menghapus praktik hukuman mati atau paling tidak mengembalikan moratorium eksekusi.

Pada 12 Mei lalu,  pengadilan tertinggi Bahrain menguatkan hukuman mati kepada dua orang politisi bernama Zuhair Ibrahim Jassem dan Mohammad Mahdi.

Kedua pria itu ditangkap secara terpisah pada 9 Februari 2017 dan dijatuhi hukuman dengan 58 terdakwa lainnya pada 31 Januari 2018, dalam sebuah persidangan yang dinodai oleh tuduhan penyiksaan dan pelanggaran proses hukum lainnya.

Sementara itu, pengadilan di Bahrain menjatuhkan hukuman penjara kepada hampir selusin demonstran anti-rezim saat rezim Al Khalifah menggunakan cara-cara kekerasan untuk membungkam para aktivis pro-demokrasi di negara itu.

Para terdakwa dituduh terlibat dengan Koalisi Pemuda 14 Februari – sebuah gerakan protes kelompok oposisi yang diberi nama setelah tanggal dimulainya pemberontakan rakyat terhadap rezim Manama, dan menyerang kantor polisi.

Baca: Demontrasi Anti Hukuman Mati di Bahrain Berakhir Ricuh

Ribuan pengunjuk rasa anti-rezim telah mengadakan demonstrasi di Bahrain hampir setiap hari sejak pemberontakan rakyat dimulai di negara itu pada pertengahan Februari 2011.

Mereka menuntut agar rezim Al Khalifah melepaskan kekuasaan dan memberlakukan sistem adil yang mewakili aspirasi seluruh rakyat Bahrain.

Manama telah berusaha keras untuk menekan tanda-tanda perbedaan pendapat. Pada 14 Maret 2011, pasukan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dikerahkan untuk membantu Bahrain menumpas para demonstran.

Puluhan orang kehilangan nyawa mereka dan ratusan lainnya menderita luka-luka atau ditangkap sebagai dampak dari sikap keras yang diterapkan oleh rezim Al-Khalifah.(fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*