no to isis kerenJakarta, LiputanIslam.com – Penolakan kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kini datang dari  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).  Menurut Sekjen PB HMI, Muhammad Chairul Basyar, warga negara Indonesia pendukung ISIS tanpa sadar mengkhianati negaranya sendiri yang sudah dididirikan dengan darah para pahlawan bangsa yang sebelumnya diikat dengan Sumpah Pemuda.

“Negara Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi keberagaman, yang mengakui keberadaan kelompok yang satu dan yang lainnya. Di Indonesia keberagaman diikat dengan Sumpah Pemuda yakni bertanah-air, berbangsa dan berbahasa satu. Namun tidak ada ada yang mengikat Indonesia dalam satu agama,” ujar Chairul Basyar. 

Chairul Basyar menandaskan bahwa Indonesia adalah satu bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa daerah. Oleh karena itu selain berbangsa, bahasa Indonesia adalah pengikat berbagai suku dengan berbagai keragaman bahasanya masing-masing. Berbagai suku itulah yang kemudian secara bersama-sama dan menyadari keberadaan masing-masing mengakui Indonesia sebagai tanah airnya. 

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menempati pulau dan laut dari Sabang sampai Merauke. Kami tidak lahir dan tinggal di Irak ataupun Suriah, yang sangat jauh dari Indonesia. Dan, di tanah air Indonesia inilah, semua agama hidup dalam kebebasannya. Sehingga kami merasa jijik jika ada orang Indonesia yang seakan-akan hidup tidak di Indonesia bahkan layaknya mereka adalah warga asing bagi negaranya sendiri,” tegas Chairul, seperti dilansir Suara Pembaruan, 2 Agustus 2014. 

Oleh karena itu, ia bersama HMI menyatakan sikap bahwa pemuda Indonesia tidak perlu membesar-besarkan ISIS. Membesar-besarkan ISIS sama saja memberi ruang promosi bagi dikenalnya organisasi itu lebih luas dan menimbulkan kekhawatiran bagi bangsa Indonesia. 

“Mengembangkan budaya nasional serta daerah adalah penting untuk melawan gerakan pengaruh asing. Adalah penting bagi bangsa Indonesia untuk memelihara warisan budaya nenek moyang yang ada di negeri sendiri.  Indonesia harus melawan rasa takut terhadap segelintir orang yang menyebarkan virus permusuhan, ketakutan dan kedengkian bagi bangsanya sendiri,” katanya. 

Ia mengurai lebih lanjut, bahwa Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan Islam berperang dengan membabi buta, melainkan mengakarkan persatuan ummat, perdamaian dengan penganut keyakinan lain, dan bersikap damai seperti Islam itu sendiri. Hal itu tercermin dan diajarkan dalam Piagam Madinah yang diprakarsai oleh Nabi Muhammad Saw.

Piagam Madinah adalah  dekrit yang dikeluarkan Nabi Muhammad Saw pada tahun 628 M. Pada saat itu, utusan dari Biara St. Catherine mengunjungi Nabi Muhammad untuk meminta perlindungan. Nabi pun memberikan perlindungan dengan menuliskan sebuah piagam, yang salah satu isinya adalah menyatakan komitmen Nabi Muhammad Saw untuk melindungi, mengayomi dan membebaskan  pemeluk agama Kristen beribadah sesuai keyakinannya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL