Netanyahu at security assessment meeting with IDF officials (Photo: Kobi Gideon/GPO)

Netanyahu at security assessment meeting with IDF officials (Photo: Kobi Gideon/GPO)

LiputanIslam.com — Semuanya tengah berhitung. Para analis mulai memprediksi apa yang akan selanjutnya terjadi, menyusul operasi Shebaa Farms yang dilancarkan oleh Hizbullah terhadap Tentara Israel. Sebagian besar menduga, bahwa ketegangan antara dua musuh bebuyutan ini semakin meningkat.

Namun tidak demikian halnya dengan Ron Ben Yishai, seorang jurnalis senior, mantan wartawan perang asal Israel. Dalam tulisannya di media Israel Ynetnews.com, 29 Januari 2015, ia berharap agar kedua belah pihak, baik Israel maupun Hizbullah sama-sama menahan diri.

Jika pada umumnya, artikel dari analis-analis Israel terkesan angkuh, pongah dan sesumbar – maka tulisan Yishai, justru menggambarkan kecemasan dan kesedihan. Apa penyebabnya?

Yishai mempertimbangkan faktor internal dan eksternal, jika seandainya Israel dan Hizbullah kembali mengulangi perang mematikan yang berlangsung selama 33 hari pada tahun 2006. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri telah mengirim ancaman kepada Iran dan Hizbullah, bersumpah bahwa keduanya akan membayar dengan harga yang mahal atas operasi Shebaa Farms.

“Israel menghadapi sebuah dilema yang sulit. Jika kita harus berhadapan dengan serangan dari Hizbullah, maka mungkin, akan menyulut api (perang-red) yang lebih besar lagi. Mungkin, akan terjadi Perang Lebanon 3,” tulis Yishai.

Yishai mencoba realistis, dengan menimbang kerugian yang akan diderita Israel jika Perang Lebanon 3 benar-benar terjadi.

“Perang Lebanon pastinya akan merugikan Hizbullah dan Lebanon. Tetapi di saat yang sama, Israel pun sangat dirugikan. Namun bagi Hizbullah, bisa berperang untuk menghalangi tujuan Israel adalah sebuah kebanggaan,” jelas Yishai.

“Seperti yang sering terjadi di wilayah kami, misalnya dalam Operation Protective Edge  dan Perang Lebanon Kedua, hasilnya hampir selalu lebih buruk dari yang diharapkan. Hal ini terjadi karena salah perhitungan. Poros Iran-Hizbullah-Suriah mencoba untuk membalas kematian rakyatnya dengan menciptakan ketegangan tanpa henti. Mereka menembakkan roket di perbatasan, yang menyebabkan Israel harus berada dalam kondisi siaga penuh. Hal seperti ini merugikan Israel secara moral dan ekonomi,” lanjutnya.

“Kondisi  siaga juga menelan biaya yang mahal. Selain menghambat beberapa unit militer untuk melakukan pelatihan, mereka diharuskan untuk melakukan ratusan jam penerbangan  dengan pesawat tempur, yang menelan biaya ratusan ribu dollar per hari,” ujar Yishai.

Selain biaya untuk siaga militer, di sisi lain ketegangan ini juga menelan biaya non-militer. Rakyat Israel akan dihantui kecemasan, yang pada akhirnya, tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.

Di samping faktor keselamatan rakyat Israel, hal kedua yang menjadi perhatian Yishai adalah perhelatan pemilihan umum yang akan digelar beberapa bulan lagi.

“Jika pemerintah sekarang merespon Hizbullah dengan sangat keras yang memicu eskalasi besar, maka hal ini akan dijadikan amunisi – bahwa mereka memang sengaja menyeret Israel ke dalam konflik besar, untuk melayani hasrat Netanyahu, Avigdor Lieberman dan Naftali Bennett. Tidak ada argumen rasional (untuk memilih opsi perang –red). Mereka akan kalah pada pemilu mendatang,” papar Yishai.

Pertimbangan lainnya, menurut Yishai, adalah komposisi pemerintah dan kabinet Israel. Setelah pemberhentian Menteri Yesh Atid dan Hatnua, maka kabinet pertahanan/ keamanan murni diisi oleh sayap kanan. Hal ini berdampak pada ketidak-seimbangan dalam memutuskan perdamaian atau perang – mengingat kelompok sayap kanan sangat konservatif, fanatik agama, dan biasanya menganut nasionalisme otoriter.

Bagaimana dengan Posisi Iran, dan AS?

Selanjutnya yang menjadi pertimbangan Yishai adalah faktor eksternal. Langkah apa yang akan diambil Iran, atau Amerika Serikat dalam menyikapi konflik Israel – Hizbullah?

“Iran, belum mengumumkan pembalasan atas serangan Israel di Dataran Tinggi Golan. Kita bisa berasumsi bahwa saat ini Iran masih menyusun rencana untuk membalas dendam. Bagaimanapun juga, saat ini Iran sedang melakukan perundingan nuklir dengan AS dan Eropa. Jadi mereka juga memilih untuk menahan diri, dan tidak terburu-buru.”

“Iran juga akan memenangkan opini masyarakat internasional jika Israel bertindak agresif dengan menyerang Hizbullah,” lanjut Yishai.

Ia juga mencermati hubungan antara Netanyahu dan Obama yang kurang mesra dalam beberapa waktu terakhir.

“Netanyahu telah mengurangi kontak dengan pemerintahan Obama, sampai pada titik terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, maka tidak diketahui dengan pasti bahwa AS akan mendukung Israel di dalam kancah internasional jika melakukan operasi militer penuh ke Lebanon,” tulis Yishai, terlihat cemas.

“Oleh karena itu Israel akan memiliki masalah dengan legitimasi internasional jika reaksi yang muncul, justru menguatkan posisi Hizbullah,” tutup Yishai.

Ada satu bagian lagi yang luput dari pertimbangan Yishai, yaitu kemungkinan terjadi perang terbuka di berbagai titik dalam waktu yang bersamaan, yaitu dari Lebanon, Dataran Tinggi Golan dan Palestina. Tentara Suriah akan memainkan peran di Golan. Lalu kemarin, faksi perlawanan Palestina, baik yang berasal dari kelompok Jihad Islam, Hamas, Front Rakyat, Fatah, Front Demokrasi Palestina, dan Divisi Perlawanan Rakyat Palestina, kompak menyerukan untuk membentuk Front Arab Islam Bersatu dan bahu membahu melawan Zionis Israel. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Comments are closed.