Sheikh Qassem 132_1LiputanIslam.com — Bagaimana perasaan Anda jika ada seseorang yang sering menghina Anda tiba-tiba menuntut Anda meminta ma’af atas kesalahan yang tidak Anda lakukan? Anda pasti marah besar dan menghina balik orang tersebut.

Hal yang sama kini dialami oleh bangsa Lebanon, dan orang yang sering menghina tersebut adalah Saudi Arabia.

Pada hari Jumat (19/2) pemerintah Saudi mengumumkan pembatalan bantuan kepada Lebanon yang telah dijanjikan senilai $4 miliar atau lebih dari Rp50 triliun. Tidak hanya itu, Saudi juga telah memerintahkan warganya untuk menjauhi Lebanon dan mengancam akan mengusir ratusan ribu warga Lebanon yang bekerja di Saudi. Langkah tersebut diikuti juga oleh negara-negara Teluk sekutu Saudi.

Selain itu Saudi juga menuntut pemerintah Lebanon untuk meminta ma’af atas kejahatan yang tidak pernah dilakukan.

Ya, ‘kesalahan’ Lebanon adalah karena menolak untuk mengecam Iran atas insiden serangan kedubes Saudi di Teheran bulan Januari lalu sebagai buntut pembunuhan ulama Shiah Sheikh Nimr.

Tidak ada manusia berakal yang bisa menerima tindakan Saudi Arabia. Bahkan Madawi Al Rasheed, profesor politik dan kolumnis situs Al Monitor, dalam tulisannya di situs tersebut tanggal 26 Februari lalu menyebut dengan langkah tersebut Saudi telah bertindak ‘gila’, mengingat bahwa Lebanon adalah sekutu tradisional yang strategis bagi Saudi, meski kelompok anti-Saudi yang dipimpin Hizbollah terus tumbuh kuat.

Tindakan Saudi tersebut, sebut Madawi, hanya akan menghancurkan Saudi Arabia sendiri, sebagaimana telah dilakukan di Yaman dan Suriah.

“Ketegangan yang memburuk tidak hanya menjadi bom waktu yang siap meledak di lokasi baru (Lebanon), menyusul Suriah, Irak dan Yemen, namun juga merusak persatuan antar negara-negara Arab. Dan Lebanon adalah korban terakhir dari ketegangan ini,” tulis Madawi.

Sebagai negara kecil yang ‘miskin’ sumber daya, Lebanon sangat tergantung secara ekonomi kepada Saudi Arabia dan negara-negara Teluk yang kaya. Ratusan ribu pekerjanya menjadi pekerja di berbagai sektor di Saudi dan negara-negara Teluk. Pemutusan hubungan tersebut tentu sangat memukul Lebanon.

Namun, hubungan kedua negara sebenarnya tidak bersifat satu arah, karena Saudi juga membutuhkan Lebanon. Sebelum Perang Sipil tahun 1975, Lebanon adalah ‘ibukota keuangan’ negara-negara Arab selain tempat wisata orang-orang kaya Arab. Selama tahun 1960-an Lebanon menjadi ‘wilayah penyangga’ antara negara-negara Arab yang saling bersaing berebut pengaruh. Dan meski pengaruh Hizbollah dan Iran semakin kuat, Lebanon utara dengan kota-kota Sidon dan Tripoli, menjadi basis kuat pendukung politik dan ekonomi Saudi Arabia yang selama ini menjadi ‘pengganjal’ kemajuan Hizbollah dan Iran.

Maka, meninggalkan Lebanon, berarti membiarkan negara itu jatuh sepenuhnya ke dalam pangkuan Hizbollah dan Iran, sekaligus membuat Saudi semakin terpinggirkan dalan konstalasi politik kawasan.

Terkait dengan tindakan Saudi tersebut, Hezbollah mengingatkan bahwa Lebanon tidak akan pernah menjadi negara bawahan Saudi.

“Lebanon tidak akan menjadi emirat Saudi atau emirat negara lainnya,” kata Wakil Sekjend Hizbollah Sheikh Naim Qassem, Jumat pekan lalu, setelah Saudi Arabia mengumumkan sanksi kepada empat perusahaan dan tiga individu yang menjadi sekutu Hezbollah.

Menurut Qassem apa yang dilakukan Saudi telah melukai Lebanon dan Lebanon berhak menuntut permintaan ma’af dan telah direncanakan sejak lama, karena Saudi tidak suka dengan kiprah Hizbollah yang semakin baik di Lebanon.

“Kenyataannya, ini adalah hal yang sudah direncanakan. Mereka ingin menyerang Lebanon dan Hezbollah, dan segala yang telah diraih negeri ini dan rakyatnya,” tambah Qassem.

Sejumlah menteri yang berasal dari blok ‘Perlawanan’ pimpinan Hizbollah juga menyampaikan kemarahannya atas tindakan Saudi. Namun beberapa tokoh dari blok pro-Saudi/Amerika, termasuk mantan Perdana Menteri Saad Hariri, mendesak pemerintah untuk mengalah pada tuntutan Saudi.

Perdana Menteri Tammam Salam sendiri telah menyerukan kepada semua pihak untuk tetap bersatu menghadapi sikap Saudi. Selanjutnya ia terbang ke Saudi untuk meredam kejengkelan Saudi.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL