khilafah

Sumber foto: facebook

Bandung, LiputanIslam.com – Di tengah kondisi politik yang memanas terkait UU Pilkada dan kisruh di DPR, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas transnasional pendukung khilafah dilaporkan telah menyebarkan brosur yang bertajuk ‘Indonesia Congress of Muslim Students 2014 Jawa Barat’ di seluruh mading Institute Teknologi Bandung (ITB).

“Di seluruh mading kampus ITB ditemukan seperti ini. Gerakan makar yang mulai dilakukan dari tingkat institusi dengan mencuci otak mahasiswa baru yang masih mencari jati diri,” demikian tulis  Hendricus Novelly Imbang Susilo, mahasiswa ITB.

Menurut keterangan Hendricus, poster ini mulai ditemukan sejak dua hari yang lalu, 1 Oktober 2014, namun ia tidak mengetahui siapa yang mulai menempelkannya di mading.

Poster ini merupakan ajakan bagi mahasiswa untuk turut menghadiri acara yang digelar oleh HTI di Bandung, 26 Oktober 2014. Selain itu, menurut keterangan, HTI juga akan menyelenggarakan acara ini di 72 kota lain di Indonesia.

Salah satu jargon utama HTI adalah antidemokrasi, yang mereka anggap sebagai sumber dari segala kerusakan. Mereka sangat biasa berargumen: apapun masalahnya, khilafah solusinya. Awalnya, mereka menyatakan diri sebagai organisasi pemikiran dan anti kekerasan. Namun, konflik Suriah telah membongkar kedok mereka: ternyata HT adalah pendukung aksi terorisme atas nama jihad. Selain itu, rekam jejak HT selama ini juga menunjukkan sikap plin-plan mereka(Baca: Dr Ainur Rofiq: Membongkar Kepalsuan Hizbut Tahrir)

Dr. Ainur Rofiq, penulis buku Membongkar Kepalsuan Hizbut Tahrir menyatakan bahwa kaum muslim harus bersatu, tapi bersatu untuk saat ini tidak dalam satu sistem politik. Ia menyeru untuk  merawat NKRI, tidak usah diotak-atik menjadi khilafah (seperti yang dilakukan HTI).

Sedang pada sisi lain, lanjut Ainur, jangan sampai tradisi muslim Nusantara yang ada di NKRI ini mudah disyirikkan, mudah dikufurkan, mudah dibid’ahkan, seperti yang dilakukan kelompok Wahabi). Karena ini semua tidak akan menimbulkan persatuan, malah friksi dan permusuhan.

Sebelumnya, Ustadz Farid Mas’udi, Ketua Dewan Pembina Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Wakil Ketua Umum Dewan Besar Masjid Indonesia menjelaskan bahwa Indonesia bukanlan negara agama. Negeri ini adalah bumi Allah yang diciptakan untuk semua umat manusia, apapun agamanya. Sungguh tidak patut jika negeri yang majemuk ini dikapling-kapling berdasarkan agama, ataupun faktor-faktor sekterian yang lain. (baca: Pesan dari Xaverian: Toleran Dalam Perbedaan)

Menurut dia, di hadapan-Nya, semua manusia adalah sama. Semuanya berhak menginjak bumi-Nya, mereguk air-Nya, ataupun menghirup udara-Nya. Keyakinan yang berbeda merupakan sebuah keniscayaan, dan dikembalikan lagi kepada pribadi masing-masing. Hal itu adalah mutlak urusan dengan manusia dengan Pencipta-nya, yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Namun kita sebagai khalifah  di bumi Allah, kewajiban kita adalah berbuat baik, beramal shaleh untuk diri sendiri dan sesama. (Farid)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL