Anak perempuan Yaman mengunjungi kompleks pemakaman di Sana’a (Yahya Arhab, 2016)

Sana’a, LiputanIslam.com–Hari Raya Idul Fitri adalah hari libur terbesar umat Muslim yang menandakan akhir dari bulan suci Ramadan. Jutaan warga Muslim di dunia merayakan hari raya ini dengan kegembiraan, namun tidak untuk warga Muslim di Yaman.

Bagi  rakyat Yaman, hari yang seharusnya diisi dengan momen perkumpulan keluarga, pembagian hadiah, kembang api dan makanan, malah tergantikan oleh kemuraman dan ketakutan akibat serangan bom, blokade, dan ancaman penyakit kolera.

Koalisi pimpinan Saudi yang telah menyerang negara itu selama bertahun-tahun, sering menjatuhkan serangan kepada warga sipil Yaman di hari raya. Pada hari Idul Fitri pada Jumat lalu, 7 orang meninggal dunia termasuk seorang perempuan dan dua anak-anak di kawasan Saada dan Beni Fayed.

Pada tahun lalu, 5 orang terbunuh dan 4 lainnya terluka oleh serangan Saudi di sebuah rumah di kawasan pusat Yaman, pada hari pertama libur Idul Fitri.

“Pesawat perang terbang di atas saya sepanjang waktu, saya tidak bisa merayakan apa-apa karena melihat orang lain kehilangan saudara mereka, rumah dan properti mereka,” kata Hussein Shurgubi, seorang jurnalis yang tinggal di Saada, dalam wawancara dengan MintPress.

“Serangan udara dan darat telah menghancurkan taman, pasar, dan jalanan…  Bagaimana saya bisa merayakan Idul Fitri?” kata seorang pegawai negeri sipil berumur 28 tahun, Mohammed Jahaf. Seperti warga Yaman lain, Jahaf mangaku hanya akan menetap di dalam rumah selama perayaan Idul Fitri.

Menurut seorang pria Yaman yang baru lulus kuliah, Ahmed Abdu (35) dari Aden, kehadiran militer Saudi-UAE di Yaman menyebabkan kehampaan di hari suci ini: “Idul Fitri kali ini akan suram, karena kami tidak punya uang. Idul Fitri sebelum invasi UAE lebih baik. Dulu, senyuman dan tawa ada di mana-mana, anak-anak bermain di taman dan pantai, membakar kembang api. Sekarang, orang-orang tidak lagi peduli dengan Idul Fitri…”

Rakyat Yaman terkenal sangat bangga atas budaya mereka, dan banyak yang memperingati Hari Raya dengan mengunjungi sejumlah situs bersejarah.

“Sangat menyenangkan ketika mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Hari Raya, meski situs-situs itu sudah hancur,” kata seorang warga bernama Saleh kepada MintPress. Saleh sedang melakukan perjalanan ke kota bersejarah bernama Kukaban, sebuah kota kecil berbenteng yang dibangung 2.800 meter  di atas laut. Kukaban telah terdaftar sebagai situs Warisan Dunia, satu dari banyak situs yang dihancurkan oleh koalisi pimpinan Saudi pada 2016.

Kota tua Sana’a yang terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, hancur oleh serangan Saudi pada 2012 (EuroNews)

Dengan banyaknya tempat wisata yang hancur dan sulit diakses, warga Yaman menemukan cara baru untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri.

Saleem, seorang anak berumur 4 tahun, mengunjungi makam ayahnya di sebuah kompleks pemakaman umum di Hari Raya. Ibu Saleem membawa manisan buatan sendiri dan kacang-kacangan dan membagikannya kepada pengunjung makam yang lain.

“Inilah tempat yang kami kunjungi di Hari Raya; setiap hari Idul Fitri kami datang ke sini setiap pagi, ini sudah Idul Fitri ke-4,” kata ibu Saleem  kepada MintPress. Menurutnya, berziarah ke makam anggota keluarga yang terbunuh dalam konflik berkepanjangan ini telah menjadi tradisi Hari Raya yang baru di Yaman.

Pemakaman umum ini di kota Jeraf  ini adalah tempat beristirahat bagi lebih dari 70 pria, wanita, dan anak-anak yang terbunuh oleh serangan Saudi, bersama tubuh-tubuh para pejuang Yaman yang tewas dalam perang. Kawasan pemakaman ini dihiasi bunga-bunga dan pohon kecil yang ditanam oleh para peziarah.

Di negara ini, luas tanah untuk pemakaman telah bertambah secara drastis selama tiga tahun terakhir. Sebabnya, angka kematian di negara ini terus meningkat, dari kematian akibat perang, kelaparan, malnutrisi, dan penyakit-penyakit. (ra/mintpress)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*