Gang Dolly (foto:latitudes.nu)

Gang Dolly (foto:latitudes.nu)

Surabaya, LiputanIslam.com–Hari ini, Dolly, kawasan lokalisasi pelacuran terbesar di Asia Tenggara akan ditutup oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Di kawasan itu, terdapat sekitar 400 wisma (rumah yang menyediakan pelayanan seks), dengan jumlah PSK mencapai 1.025 orang. Dalam sehari, uang yang berputar mencapai kisaran 400 juta rupiah.

Meskipun awalnya mendapatkan penentangan dari Wakil Walikotanya, serta dari para penghuni Dolly, Risma tetap teguh melanjutkan rencana penutupan itu. Akhirnya, Wakil Walikota menyatakan mendukung. Sebagaimana dilaporkan Republika (3/6/2014), Wakil Walikota Surabaya, Wisnu Sakti Buana, akhirnya menuruti keputusan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang memajukan penutupan lokalisasi prostitusi Dolly menjadi 18 Juni 2014. Pria yang juga menjabat ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Surabaya tersebut mengakui, pihaknya sempat ingin menerjunkan kader partai kalau penutupan Dolly dilakukan secara represif.

Wisnu memastikan selalu berada di belakang untuk mendukung Risma. Terkait isu jaminan kompensasi untuk pekerja seks komersial (PSK) hingga mucikari Dolly,  ia meyakini kalau Risma sudah siap secara pendanaan.

Wisnu juga memastikan, kalau PDIP tidak akan mengerahkan kadernya untuk melindungi Dolly jika ditutup secara represif. Ia berharap, kemungkinan terjadinya gesekan saat penutupan Dolly nantinya harus dihindari. “Lagipula seluruh kekuatan kami (PDIP) saat ini berkonsentrasi untuk memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) 9 Juli 2014,’’ ujar anak mantan sekjen PDIP Soetjipto itu.

Kedua capres yang akan bertarung dalam Pilpres pun menyatakan dukungannya atas rencana Risma.

Dukungan dari Prabowo-Hatta disampaikan oleh Anggota Dewan Pakar Pemenangan Prabowo-Hatta, Hidayat Nur Wahid (dari PKS), melalui akun twitternya, @hnurwahid.

“Dolly, lokalisasi prostitusi terbesar di AsTengg itu segera ditutup. PrabowoHatta mendukung, alhamdulillah,” ujar Hidayat.

Sementara itu, calon presiden Joko Widodo menyatakan dukungannya secara langsung, kepada para wartawan di sela-sela kampanyenya di Subang.

“Bu Risma sudah menghitung. Yang penting beri solusi dan ada jalan keluarnya sehingga yang bekerja di situ tidak balik,” ujar Jokowi, seusai menunaikan ibadah shalat maghrib di salah satu masjid di Kota Subang, Jawa Barat, Selasa (17/6/2014), sebagaimana dikutip Kompas.

Risma memang melakukan banyak persiapan jauh-jauh hari sebelum penutupan Dolly, antara lain dengan memberi pelatihan kewirausahaan dan bantuan modal untuk usaha.

Dalam acara Mata Najwa bulan Februari 2014, dengan berlinang air mata, Risma menuturkan bahwa ia semakin mantap memutuskan penutupan Dolly setelah menemukan adanya pelacur miskin berusia 60 tahun. Pelanggannya adalah anak-anak usia SD-SMP yang hanya mampu membayar seribu-dua ribu rupiah. Selain merusak masa depan anak-anak di sekitar lokalisasi pelacuran, terbukti bahwa profesi pelacur tidak menyejahterakan karena hingga usia senja mereka masih hidup miskin.(dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL