clean-waterGaza, LiputanIslam.com—Bank Dunia mengungkapkan kekhawatirannya atas krisis air bersih yang mencekik Jalur Gaza. Mereka menyatakan hanya 10 persen dari rakyat Gaza yang mendapat akses air bersih.

“Ada banyak air yang disedot dari tanah Gaza sejak tahun 1990-an sehingga air laut merembes dan membuat air tanah sangat asin,” kata Adnan Ghosheh, seorang spesialis air dan sanitasi senior di institusi finansial internasional, pada Rabu (23/11/16).

“Terdapat sejumlah 150 operator yang menyediakan semacam alat penyaringan sehingga air yang asin tersebut bisa diminum atau untuk memasak. [Namun] itu mahal dan bukan air yang berkualitas menurut standar kami.”

Ghosheh mengatakan bahwa Bank Dunia seharusnya memprioritaskan perlindungan sumber air, sistem suplai, dan pengolahan air limbah di Gaza.

“Kami punya proyek pengolahan air limbah di Gaza Utara. Proyek tersebut dilakukan dalam keadaan darurat, namun kami [memutuskan] untuk melakukannya sebagai solusi jangka panjang, di mana air yang diolah dapat digunakan untuk minuman dan penggunaan lain,” katanya.

Ghosheh juga menegaskan kembali peringatan PBB bahwa Jalur Gaza mungkin tak dapat dihuni kurang dari lima tahun ke depan akibat krisis air ini.

“Jika kita mulai mengimplementasikan rencana untuk menjaga suplai air dan meningkatkan sistem pengairan, akuifer akan bersih dan terisi kembali,” katanya. “Namun jika pada tahun 2020 rencana itu tak juga dilakukan – jika 55 meter kubik air dari fasilitas desalinasi tidak dapat mengganti air yang habis—jika pengolahan limbah air tidak dibangun – kita akan menghadapi sebuah proses yang tidak bisa diperbaiki.” (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL