MPRJakarta, LiputanIslam.com–Proses penghitungan hasil voting anggota MPR untuk menentukan paket pimpinan MPR, selesai dengan kemenangan Koalisi Merah Putih (KMP).  Peta kekuatan antara kubu KIH dan KMP berubah setelah bergabungnya PPP dengan KIH.Pengamat politik menilai, bergabungnya PPP dengan KIH bisa menjadi ‘pengerem’ KMP.

Keluarnya PPP dari KMP disampaikan saat PDIP menyampaikan paket yang mereka usung. Anggota MPR dari Fraksi PDIP Tb Hasanuddin maju mewakili fraksinya untuk membacakan paket pimpinan yang diusung PDIP.

Tb Hasanuddin menyampaikan satu persatu nama dan posisi paket pimpinan MPR yang mereka ajukan. Oesman Sapta Odang dari kelompok DPD diplot sebagai calon ketua MPR. Lalu untuk posisi empat wakil pimpinan MPR diisi oleh Ahmad Basarah dari Fraksi PDIP, Imam Nahrowi dari Fraksi PKB, Patrice Rio Capella dari Fraksi NasDem.

“Dan dari Fraksi PPP Hasrul Azwar,” kata Tb Hasanuddin.

Suasana Paripurna sontak bergemuruh saat nama anggota Fraksi PPP Hasrul Azwar disebut.

Menurut pengamat politik Hanta Yuda kepada Metro TV (8/10), motivasi PPP untuk bergabung dalam KIH adalah power sharing (pembagian kekuasaan) karena PPP tidak diberi kursi oleh KMP dalam paket pimpinan DPR maupun MPR. Meskipun KIH tetap kalah pasca bergabungnya PPP, namun setidaknya membuka peluang.

“Bergabungnya PPP memberikan peluang. Kalau PPP tetap di KMP, sejak awal peluang kemenangan KIH tidak ada. Perolehan suara KIH 330, artinya ada penambahan suara yang berasal dari PPP. Motivasi PPP adalah power sharing  dan ada peluang untuk posisi menteri.  Sementara bagi KIH, bergabungnya PPP akan menambah kekuatan 44% suara di DPR, paling tidak bisa menjadi pengerem keinginan KMP untuk mengubah konstitusi untuk pemilihan presiden melalui MPR,” kata Hanta Yuda. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL