Sumber: ngopibareng.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan bahwa tradisi ilmu merupakan perwujudan wahyu pertama yang diterima Nabi Saw. Iqra pada wahyu pertama adalah untuk membangun peradaban.

“Iqra menjadi wahyu pertama. Iqra ini menjadi wahyu untuk membangun peradaban,” ucapnya pada acara Launching Buku Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah karya Mohammad Djazman Al Kindi di Uhamka Jakarta pada Senin (30/9).

“Dalam tradisi mazhab Frankfrut atau tradisi positivisme, Pak Djazman sebagai emansipatoris ilmu. Ilmu bukan sekadar menara gading, terapi terwujud dalam dunia nyata. Ilmu dalam Muhammadiyah harus mewujud di dalam kehidupan. Harus ada manifestasi ilmu dalam amal,” katanya.

Haedar juga memberikan apresiasi kepada penulis buku sebagai sosok pekerja keras. Menurutnya, Djazman Al-Kindi mampu menyelaraskan ilmu dan amal, serta membangun sistem. “Tugas generasi muda berat. Harus belajar ilmu untuk kemudian beramal dengan ilmu itu,” ungkapnya.

Baca: Puluhan Kitab Ulama Sunda Ditulis Ulang dan Diterjemahkan

“Kiai Dahlan telah meninggal, namun Muhammadiyah terus belangsung karena sistem. Tidak banyak elit negeri yang visioner seperti itu,” tambahnya. (aw/SM/menara62).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*