merapiSleman, LiputanIslam.com — Gunung Merapi kembali mengeluarkan asap tebal dan hujan abu di wilayah lereng gunung yang berada di dua provinsi, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Suara gemuruh terdengar pada pukul 04.26-04.40 WIB, Ahad (20/4).

Suara gemuruh selama seperempat jam itu sempat mengganggu tidur masyarakat sekitar. Ada warga yang panik ke luar rumah, ada pula yang siap mengungsi. Namun letusan sesaat itu tidak berlanjut. Status gunung api tetap normal.

“Gemuruh terdengar dari gunung, masyarakat ada yang panik dan sempat lari,” kata Heri Suprapto, Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman.

Desa Kepuharjo merupakan wilayah terdekat dengan puncak Merapi. Pada 2010, sebagian besar desa itu tersapu oleh awan panas dan material vulkanis. Namun, kata dia, masyarakat di lereng gunung tersebut sudah terbiasa dengan suara gemuruh seperti itu.

Meskipun demikian, warga tetap bersiaga jika sewaktu-waktu harus mengungsi. “Hujan abu merata di lereng gunung,” kata Heri.

Letusan kecil itu merupakan pelepasan gas yang dominan CO2. Letusan disertai suara gemuruh tersebut disusul adanya lava pijar sejauh 1 kilometer ke hulu Kali Senowo dari puncak kawah Gunung Merapi.

Menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan bencana, hujan abu dan pasir terjadi di daerah-daerah pada radius 12 kilometer sisi tenggara hingga barat daya. Di Kabupaten Magelang, hujan abu terjadi di Kecamatan Dukun, Srumbung, Muntilan, Sawangan, hingga Kota Mungkit.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyatakan status Gunung Merapi tetap normal. Sebab, tidak ada peningkatan aktivitas vulkanis setelah letusan tadi. “Berdasarkan analisis, lava pijar yang keluar dari kawah bukan material juvenile (magma baru),” kata Sutopo.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL